Jika kebutuhanmu banyak, maka jagalah hutanmu dan jangan kau rusak. Jangan sampai anak cucu kita bertanya, mana hutan kita? Karena hutan laksana penyeimbang. Merusak hutan sama dengan merusak masa depan. 

Hai teman, di awal pembahasan ini, izinkan saya bercerita tentang kehidupan kami di kampung halaman, dimana orang tua kami yang mengandalkan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun di sini kami menyebutnya gunung, bukan hutan belantara seperti di Kalimantan atau Sumatera yang penuh semak-semak dan pohon besar.

Konsep hutan atau gunung di desa kami yaitu setiap satu petaknya ada pemilikinya. Misal 100 ubin punya si A. 50 ubin punya si B. Semuanya ada pemiliknya. Di gunung ini, pun tumbuh pepohonan layaknya hutan. Seperti pohon kelapa, jati, albasia, sengon, mahoni, akasia, dan sebagainya, dan masih sangat lebat.

Untuk milik orang tua saya sendiri, komoditas yang dihasilkan cukup beragam. Seperti kencur, jahe, laos atau lengkuas, sereh atau kamijara, pisang, bangle, temu, kunyit, daun katuk, kelapa, mangga, singkong, gembili, rebung, pisang, kecombrang, dan banyak lagi yang lainnya. Namun yang paling banyak yaitu tanaman bumbu, terutama kencur.

Kencur ini jika dipupuk dengan pupuk kandang dari kotoran sapi, pohonnya bisa sangat subur dan lebar daunnya bisa selebar lambar. Ukuran kencurnya pun bisa sangat besar-besar. Kencur ini begitu banyak dibutuhkan, terutama saat ramai-ramainya kuliner seblak yang mana harus pakai kencur.

kencur dan jahe

Kencur dan jahe hasil dari hutan (gunung). Dokpri.

Untuk menjualnya, kebetulan Ibu saya berjualan di pasar. Dahulu, setiap paginya beliau berangkat naik sepeda (sekarang naik sepeda motor) untuk menjual hasil bumi. Sedangkan alm. Bapak saya yang mengurus tanaman di hutan.

Saat musim kemarau hampir berakhir dan rintik hujan mulai datang, biasanya kami menanam kencur dan juga tanaman lainnya. Jika sudah berumur satu tahun, kencur ini diarug atau diurug dengan tanah setelah dikasih pupuk kandang. Saat berumur sekitar 3 tahun, kencur sudah siap panen karena ukurannya sudah besar.

Dan hingga saat ini pun, Ibuku pun masih memanfaatkan hasil hutan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun karena sudah tak kuat naik gunung, maka beliau hanya bisa kulakan di pasar, atau dari para tetangga yang datang ke rumah yang akan menjual barang dagangannya.

Jadi di tempat kami, sebagian besar masyarakatnya begitu menggantungkan hidup dari hutan atau gunung ini. Tanpanya, entah bagaimana mereka bisa hidup.

Dan saat ini pun, hutan atau gunung di tempat kami masih sangat asri. Jarang terjadi bencana atau musibah karena banyak sekali pepohonan besar yang tumbuh.

Saat harus ditebang, masyarakat pun sudah ada cadangan pohon lain yang sebelumnya di tanam. Aliasnya menggunakan sistem tebang pilih atau menebang yang sudah layak pakai saja.

Makannya tidak heran jika hutan atau gunung ditempat kami sangat lebat dan hijau. Bahkan di rumah orang tua saya, suhu udaranya cukup dingin karena kanan kirinya pepohonan lebat. Jadi tidak berlebihan jika saya sebut #HutanKitaSultan karena alamnya masih asri.

Rumah ortuku yang diapit gunung. Geser untuk gambar lainnya. Dokpri.

Selain kaya dari hasil hutan, sumber daya alam lainnya di tempat kami pun ada. Yaitu wisata alam bernama Curug Silangit. Untuk lokasinya letaknya lumayan jauh di tengah hutan. Jika dari rumah orang tua saya, pengunjung harus berjalan kaki menysuri sungai kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki.

Dulu saat masih kecil, saya dan teman-teman seringkali mandi sini. Anjlog dari ketinggian atau berenang itu sudah hal biasa. Bahkan saat banjir sekalipun.

Curug ini sangat populer di kalangan wisatawan karena menawarkan keindahahan air terjun dengan ketinggian sekitar 12 meter. Saat musim hujan, debit airnya cukup besar dan jernih. Dan hampir setiap harinya pengunjung berdatangan.

Untuk itu, pengunjung pun dikenakan tarif parkir sepeda motor, dimana dana tersebut digunakan untuk pengembangan wisata atau desa tersebut. Iya, cuma parkir doang.

Curug Silangit Pacalbalung Sidoagung Sruweng Kebumen

Curug Silangit Kebumen. Dokpri.

Nah, itu untuk yang ada di tempat saya, Kebumen Tengah. Untuk Kebumen utara tepatnya di desa Cangkring, Kecamatan Sadang, di sana alamnya lebih alami lagi. Buktinya karena masih banyak madu hutan dengan ukuran besar-besar yang tumbuh liar di atas pohon.  

hutan sadang kebumen

Terlihat hutan Sadang, Kebumen, dari kejauhan yang menyimpan kekayaan sumber daya alam. Dok. kebumen123.com

Oleh karenanya, warga pun dapat mengambilnya untuk dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan seperti yang kita ketahui bersama, madu asli murni itu harganya cukup mahal. Satu botol sirup bisa sampai ratusan ribu. Untuk madu hutan Sadang ini cukup laris diburu pembeli karena memang madu asli.

Misal seperti yang dilakukan oleh mas Arno yang merupakan warga desa Cangkring. Dimana ia seringkali berburu madu hutan untuk dijual atau dikonsumsi sendiri, yang sekaligus untuk channel youtubenya.

Untuk satu botol sirup, saat saya tanya via WA, ia menjual seharga 200 ribu. Tentu ini sangat membantu kehidupannya dari hutan di desanya, pun juga untuk warga lainnya. Dan kalau saya lihat di akun facebooknya, pembelinya pun lumayan banyak.

Madu-Hutan-Cangkring-Sadang-Kebumen

Madu hutan Cangkring, Sadang, Kebumen. Dok. Arno Cangkring. 

Nah, selain pesona hutan di Kebumen, saya juga pernah berkunjung ke Hutan di Kabupaten Pekalongan, yang merupakan satu-satunya hutan di Jawa Tengah dan merupakan paru-parunya Jawa Tengah.

Hutan Pekalongan atau juga disebut hutan Petungkriyono ini masih sangat alami. Karena di sini masih banyak hidup hewan liar yang di lindungi. Misal seperti Owa Jawa dari jenis kera, monyet ekor panjang, macan kumbang, ular, lutung, elang, dan banyak hewan lain hidup di sini.

Selain itu, hutan Petungkriyono sendiri juga berkontribusi ke kemakmuran warganya. Misalnya dari wisata yang di tawarkan seperti Curug Sibedug yang letaknya persis di tepi jalan, atau Curug Bajing yang cukup populer karena ketinggiannya yang mencapai 70 meter.

Lalu ada juga Curug Muncar yang lokasinya tak jauh dari Curug Bajing. Kemudian ada juga wisata tengah hutan bernama Welo Asri yang letaknya di tengah hutan.

hutan-petungkriyono

Hutan Petungkriyono Pekalongan dan Curug Sibedug. Kedua model tersebut dalam rangka mempromosikan wisata Petungkriyono pada 2017 lalu. Dokpri.

Bukan itu saja, kopi hutan yang dihasilkan pun turut menyumbang perekonomian warganya. Seperti yang dilakukan Pak Tasuri, warga setempat yang berhasil membranding kopi dengan nama kopi Sokokembang karena berasal dari hutan Sokokembang.

Berikutnya ada gula semut merk Arenalas dan juga kopi mentah dalam bentuk biji atau butiran. Dan uniknya, kopi ini alami dan organik tanpa bahan kimia karena dipetik dari pohon yang tumbuh liar di hutan. Untuk harga per 200 gramnya yaitu Rp 40.000,- (2017).

kopi-sokokembang-Petungkriyono

Produk hutan Sokokembang Pekalongan. Dokpri.

Selain menyumbang perekonomian, hutan Petungkriyono ini tentu saja berkontribusi besar mencegah perubahan iklim karena mengeluarkan banyak oksigen dan menyerap karbondioksida. Ini penting mengingat saat ini efek pemanasan global sudah begitu terasa.

Saat dulu berkunjung, di sepanjang jalan masih banyak sekali pepohonan hijau menjulang tinggi dan sangat lebat. Bahkan saya melihat ada pohon yang sangat besar yang mungkin usianya sudah ratusan tahun.

Suara-suara khas hutan seperti burung dan tetesan air pun begitu jelas terdengar di telinga. Bahkan saya sempat melihat elang terbang. Sejuk banget pokoknya. Sungainya pun jernih dan bersih karena saya sempat turun ke air.

Dari penjelasan di atas, kita bisa tahu betapa banyak dan indahnya lukisan Tuhan yang diberikan gratis pada umatnya. Sudah sejatinya kita menjaganya agar tetap lestari. Karena keberadaan hutan ini sangat penting untuk keberlanjutan hidup anak cucu kita kelak.

Bahkan bisa dibilang tanpa hutan, manusia tak akan bisa hidup. #IndonesiaBikinBangga banget pokoknya karena kekayaan yang dimilikinya. Namun selain manfaat nyata di atas, berikut manfaat lain hutan Indonesia dalam infografis.

Manfaat-Hutan-Bagi-Kehidupan

Ancaman terhadap hutan Indonesia

Dari penjelasan di atas, kita bisa tahu bahwa #HutanKitaSultan karena sangat indah dan begitu berkontribusi bagi masyarakatnya. Apalagi bagi masyarakat adat yang mengandalkan hidup dari hutan dan tak bisa hidup tanpa hutan.

Baca Juga : Pentingnya Menjaga Hutan Sebagai Sumber Pangan

Untuk kita ketahui, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke-3 terluas di dunia setelah Kongo dan Brazil. Selain itu, 60 juta masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari hutan Indonesia sebagai sumber penghidupan (KLHK 2017). Namun sayangnya ada banyak ancaman yang membuat hutan kita semakin habis.

Misalnya seperti kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Barat beberapa tahun lalu, yang membuat warganya harus hidup dalam gelapnya asap.

Oleh karenanya, banyak warga yang harus menderita ispa atau infeksi saluran pernapasan karena harus menghirup asap dari hutan yang dibakar. Yang bikin kasihan itu anak-anak atau mereka yang punya sakit asma. Karena asap ini, rasa sakitnya akan semakin parah.

Memangnya, apa saja sih ancaman yang membuat hutan kita makin menyusut dan berkurang jumlahnya. Berikut point-pointnya.

1. Kebakaran hutan

Perihal kebakaran hutan bukan hal asing lagi di negara kita. Dan sayangnya hal itu banyak terjadi karena unsur kesengajaan manusia untuk suatu tujuan. Karena kebakaran hutan, banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan.

Misal seperti binatang-binatang akan mati karena rumahnya terbakar dan habitatnya hilang. Untuk spesies langka, mereka pun terancam punah. Untuk manusia itu sendiri, asap yang ditimbulkan mengganggu kehidupan.

kebakaran-hutan

Seekor kera yang menggendong anaknya karena rumah merek rusak. Image by Ria Sopala from pixabay.com

Bahkan beberapa tahun lalu Indonesia pernah ditegur negara tetangga karena timbulan asapnya sampai ke negaranya. Dan yang pasti, luas hutan yang berfungsi mencegah perubahan iklim akan berkurang. Itu artinya bumi akan semakin panas dan manusia sendirilah yang akan rugi kedepannya. Dan sayangnya, kebakaran ini masih terus saja terjadi. 

2. Penebangan hutan secara liar

Jenis kerusakan hutan lainnya yaitu penebangan hutan secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tujuannya tidak lain untuk keuntungan pribadi. Hal itu tentu saja salah karena merupakan tindakan merusak alam dan dilarang oleh negara.

Dampak buruk yang dihasilkan bisa berupa banjir besar seperti yang sempat viral beberapa tahun lalu di Jawa Timur. Atau hilangnya habitat binatang yang hidup didalamnya. Penebangan liar ini mungkin tidak menimbulkan dampak negatif yang serius. Tapi jika banyak yang melakukannya, tentu saja efeknya akan sangat buruk.

Deforestasi

Penebangan hutan secara liar yang merusak hutan. Image by Picography from Pixabay

3. Alih fungsi hutan atau deforestasi

Selain kebakaran hutan dan penebangan liar, alih fungsi lahan dari hutan tropis menjadi hutan tanaman juga merupakan penyebab berkurangnya hutan.

Menurut Sabajo (mahasiswa PhD di University of Göttingen) via stus https://nationalgeographic.grid.id/ mengatakan, suhu permukaan di hutan alami lebih rendah ketimbang hutan tanaman jenis tertentu.

Untuk hutan tanaman sa**t misalnya, suhu permukaannya lebih panas hingga 8 derajat celcius. Dan karena jumlahnya sangat banyak, maka berpotensi terhadap perubahan iklim.

hutan-tanaman

Alih fungsi hutan mengurangi luasan hutan. Terlihat api membakar hutan tropis. Dok. Yunaidi Joepoet via https://nationalgeographic.grid.id/

4. Pertambangan

Dalam pertambangan, biasanya tanah akan dikeruk membentuk terowongan, lubang, atau cekungan mengerucut ke bawah dan biasanya sangat besar. Untuk itulah maka harus membabat tanaman yang ada, sehingga daerah sekitar pertambangan pun menjadi rusak.

Seperti di Kalimantan misalnya. Di sana banyak ditemukan cekungan bekas pertambangan, namun sayangnya galian atau cekungan bekas tambang tersebut tidak diurug kembali hingga membentuk kolam.

tambang

Ilustrasi pertambangan yang menggerus hutan. Image by István Mihály from pixabay.com

Selain pertambangan, gunung atau bukit yang diambil batu atau tanahnya untuk keperluan urug bangunan atau komersil pun banyak terjadi di suatu daerah. Dan tentu saja ini merusak tanaman atau hutan dan dapat menimbulkan tanah longsor.

5. Kemarau panjang dan puntung rokok

Saat kemarau panjang tiba, bara api kecil dari puntung rokok bisa begitu berbahaya bagi hutan. Puntung rokok yang masih menyala dapat menimbulkan api dan membakar hutan.

Dan ini akan sangat berbahaya jika hutan yang terbakar adalah hutan gambut yang bisa terbakar hingga bermeter-meter di bawah tanah. Jika sampai terbakar, maka untuk padamnya lebih sulit dan kepulan asapnya pun lebih pekat. 

Karena puntung rokok, beberapa orang sampai berurusan dengan hukum karena kelalaian yang dilakukan telah merusak hutan. 

 

puntung rokok dan kemarau panjang

Image kekeringan by Marion from pixabay.com – Image rokok by Myriams-Fotos from pixabay.com

6. Pencemaran limbah industri

Dulu pernah ada seorang kerabat bercerita, bahwa di tempatnya yang dekat hutan di daerah Sumatera sana, air tanahnya berwarna hitam dan berminyak. Untuk keperluan makan dan minum, ia membelinya.

Katanya pencemaraan tersebut dikarenakan limbah industri yang berdiri di daerahnya. Tentu ini sangat merugikan warga dan tentunya dapat merusak tanaman-tanaman di hutan.

limbah industri

Limbah industri yang mencemari lingkungan akan berpengaruh ke hutan. Image by Yogendra Singh from pixabay.com

7. Api unggun

Berkemah di hutan memang banyak digemari orang. Dan akan semakin seru jika membuat api unggun, terutama di malam hari untuk sekedar penerangan atau menghalau binatang buas.

Namun ini perlu kehati-hatian ekstra karena api unggun ini cukup besar dibandingkan puntung rokok. Jika sampai menular dan merambat ke ranting kering, bisa berakibat kebakaran hutan.

api unggun

Api unggun yang bisa beresiko kebakaran hutan jika tak hati-hati menjaga. Ima by Henning Sørby from Pixabay.com

Nah, itulah 7 penyebab dari sekian banyaknya kerusakan hutan. Jadi, walaupun hutan kita sangat kaya dan indah, tapi ada begitu banyak ancaman yang dapat merusak hutan.

Dari penjelasana di atas, tentu saya sebagai masyarakat yang peduli lingkungan tidak tinggal diam walaupun tidak tinggal di sekitar hutan.

Bukan karena ini sebuah lomba, tapi karena memang kesadaran dari hati dan ini sudah saya lakukan sejak lama. Untuk itulah, inilah 13 hal yang sudah saya lakukan untuk menjaga lingkungan dan hutan tetap lestari.

1. Tidak buang sampah sembarangan

Salah satu hal sederhana yang selalu saya lakukan yaitu tidak membuang sampah sembarangan. Jika misal lagi ada di tempat umum dan tidak menemukan tempat sampah, sampah saya simpan sampah di tas dan baru dibuang saat menemukan tempat sampah. Atau bahkan saya bawa pulang ke rumah.

Jika misal itu sampah organik seperti kulit buah misalnya, maka akan saya olah jadi pupuk. Karena seperti kita tahu, sampah menghasilkan gas metana yang besar, yang akan naik ke atmosfer dan menyumbang pemanasan global.

buang-sampah-pada-tempatnya

Gambar kiri, sampah dalam tas yang masih tersimpan di tas karena tak ada tempat sampah. Gambar kanan menunjukkan kebiasaan saya buang sampah pada tempatnya. Dokpri. 

2. Stop pemakaian plastik dan ganti dengan keranjang sepeda

Ibu warung tempat saya belanja dekat rumah sudah hapal banget kalau saya suka menolak plastik.

“Gak usah pakai plastik ya Bu”

“Kebanyakan sampah ya”

“Iya, saya taruh di keranjang sepeda saja”

Saya paham banget kalau sampah plastik tidak bisa terurai selama 100 tahun dan akan mencemari lingkungan. Kalaupun dikasih dan agak memaksa, saya menolaknya secara halus. Tujuannya agar tidak ada sampah plastik, juga sekaligus memberikan contoh orang lain agar menekan penggunaan plastik.

Kemudian dengan saya lebih suka naik sepeda ketimbang kendaraan bermotor, juga sebagai aksi ramah lingkungan, lebih sehat, bebas polusi, dan lebih hemat bahan bakar. Bahkan saat saya harus pergi ke tempat yang agak jauh, seringkali pun naik sepeda. Itung-itung sambil olahraga

 keranjang-sepeda-sebagai-pengganti-plastik

Keranjang sepeda sebagai pengganti plastik. Selain lebih sehat dan hemat, juga aman bagi lingkungan. Dokpri.

3. Membuat komposter untuk mengurangi jumlah sampah

Saya punya komposter di rumah sejak lama. Tujuannya agar tidak membuang sampah ke tempat sampah. Dengan komposter ini, sisa sayuran atau makanan saya masukkan untuk kemudian diurai menjadi pupuk organik.

Kebetulan saya punya tanaman sayuran di samping rumah. Dengan pupuk organik, tanaman lebih sehat karena tanpa bahan kimia, dan rasanya pun lebih enak, pastinya.

Agar pupuk ini lebih kuat nutrisinya, saya campurkan bekas cucian beras sebagai fermentasi, atau kadang saya tambahkan air gula pasir. Dengan komposter ini, jumlah sampah yang saya buang pun berkurang agak banyak, sehingga lingkungan rumah lebih bersih dan sehat.

Komposter-pengurang-sampah

Komposter untuk mengurangi jumlah sampah di rumah. Sisa makanan dan sayuran bisa diubah jadi pupuk dengan komposter ini. Dokpri.

4. Memanfaatkan barang bekas untuk bertanam

Saya tidak punya lahan untuk bertanam di rumah. Oleh karena itu, saya pun berinisiatif untuk tetap bisa bertanam walau di lahan sempit dengan memanfaatkan barang bekas. Dengan begitu, sampah botol plastik tidak terbuang sia-sia.

Jenis tanamannya yaitu cabai dan terong gelatik yang sistem penanamannya lewat bawah atau terbalik. Jadi dalam satu botol ada dua tanaman, dan ada pula yang satu tanaman. Untuk pupuknya sendiri saya pakai pupuk organik dari komposter di atas.

tanaman-cabai-dengan-botol-bekas

Menanam cabai di rumah di lahan sempit menggunakan botol bekas. Dokpri. 

5. Pakai lampu hemat listrik

Di rumah, saya pakai lampu jenis LED. Selain lebih terang, lampu LED juga hemat listrik. Begitu sih kata penjualnya. Dan memang benar sih. Selain itu, lampu LED jenis tertentu juga lebih awet bertahun-tahun. Karena lebih hemat listrik, biaya token listrik bisa ditekan.

Selain pakai lampu hemat listrik, saya juga selalu hemat listrik. Misalnya dengan mematikan lampu saat tidur atau saat tidak dipakai, memberi pencahayaan pada ruang kerja agar tak pakai lampu, mencabut colokkan yang sudah tidak dipakai, dan sebagainya.

lampu-led

Lampu LED hemat listrik di rumahku. Dokpri.

6. Menanam pohon

Saya suka menanam pohon. Misal karena didepan rumah saya ada pohon alpukat. Namun sayangnya kemarin mati karena sepertinya tersiram air sabun saat di kamar mandi.

Sebagai penggantinya, saya ingin menggantinya dengan pohon mangga manalagi atau pohon jeruk, selain pohon pisang yang dulu pernah berbuah sangat banyak. Dengan pohon ini rumah pun lebih sejuk dan adem karena oksigen yang dikeluarkan.

nanam-pohon

Menanam pohon agar lingkungan lebih sejuk. Yang dipager keliling putih itu pohon alpukat yang mati, dan akan diganti dengan pohon mangga. Dokpri.

7. Beli makanan pakai wadah sendiri

Saat ini saya mulai melakukan kebiasaan beli makanan pakai wadah sendiri, tujuannya untuk menekan penggunaan plastik. Kalau di tempat umum seperti taman kota atau alun-alun kota misalnya, biasanya ada banyak sekali sampah plastik berserakan.

Saya pikir seandainya semua orang melakukan ini, lingkungan akan lebih bersih, dan modal pedagang pun dapat ditekan karena tidak perlu beli plastik. Apalagi budaya masyarakat kita yang masih suka buang sampah sembarangan.

beli-makanan-pakai-wadah-sendiri

Beli makanan pakai wadah sendiri agar tak timbul sampah, terutama sampah plastik. Dokpri.

8. Bangga konsumsi hasil hutan

Sebagai orang yang peduli lingkungan, saya tentu bangga pakai produk dan konsumsi hasil hutan. Misalnya karena saya punya tas purun dari rumput gambut, yang dapat terurai dengan tanah jika sudah rusak. Kemudian saya juga pernah coba sago pancake bebas gluten yang merupakan produk dari hutan Papua. Rasanya pun lumayan enak.

Lalu ada juga kopi dari hutan di Jambi. Dan kemarin saya baru saya coba selai buah kerben produk dari hutan Kalimantan. Kerben ini semacam buah beri dari hutan. Rasanya pun cukup enak. Untuk perabotan, saya punya piring dari helai daun jambe yang dapat terurai dengan tanah saat sudah rusak nanti.

produk-dari-hutan-non-kayu

Berbagai produk hutan yang pernah saya coba. Dokpri.

8. Giat berbagi info seputar lingkungan di media sosial

Di instagram, saya mengikuti berbagai akun-akun peduli lingkungan. Misalnya seperti @hutanituid dan berbagai akun sejenis lainnya. Tujuannya tidak lain untuk membantu menyuarakan aksi kepedulian lingkungan pada khalayak ramai.

Buat yang follower instagramnya banyak, efeknya bisa terasa. Walaupun terlihat sepele karena dalam bentuk maya, tentu saja ini bermanfaat untuk mengubah mindset banyak orang tentang kepedulian lingkungan. 

Untuk aksi nyatanya, saya sering membuat konten instagram baik itu story, feed, bahkan hingga reels tentang kepedulian lingkungan. Selain itu di twitter saya juga sering ngetweet tentang kepedulian lingkungan.

share-info-lingkungan

Berbagi info tentang lingkungan di instagram agar semakin banyak orang peduli lingkungan. Dokpri.

Selain media sosial, saya juga suka berbagi info kepedulian lingkungan lewat blog. Misal karena hingga saat ini, mungkin sudah ada 10 artikel tentang lingkungan.

Contohnya seperti artikel tentang perubahan iklim, keanekaragaman hayati, biofuel, challenge jaga bumi, lahan gambut, pengolahan limbah, yang kesemuanya terangkum di link ini https://www.kangamir.com/category/lingkungan/

9. Pakai tas belanja saat belanja

Saya selalu menekankan pada istri saya jika saat belanja, untuk selalu bawa tas belanja. Tujuannya tidak lain untuk menekan penggunaan plastik. Karena pedagang selalu menawarkan plastik saat ada pembeli.

Dengan tas belanja ini, penggunaan plastik di rumah pun berkurang. Kedepan saya pengen punya tas goni karena bahan yang digunakan dapat terurai dengan tanah.

tas-belanja

Tas belanja yang biasa dipakai untuk mengurangi plastik. Dokpri.

10. Adopsi pohon di hutanitu.id

Cara peduli hutan paling mudah dalam aksi nyata yaitu dengan adopsi pohon. Adopsi pohon adalah program penggalangan dana dari donatur, dimana dana tersebut akan digunakan untuk mendukung masyarakat sekitar hutan dalam menjaga hutan. Misalnya untuk biaya patroli hutan oleh penjaga hutan, pembelian bibit pohon, dan sebagainya.

Menurut data dari website hutanitu.id, hingga saat ini pohon yang diadopsi sudah lebih dari 3400 pohon yang tersebar di berbagai wilayah. Seperti Hutan Adat Rantau Kermas di Jambi. Hutan Nagari Sungai Buluh di Sumatera Barat. Atau di Taman Nasional Nunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Untuk jumlah donasinya pun beragam mulai dari Rp 20.000,- saja. 

Untuk adopsi pohon ini, kalian bisa melakukannya di website hutanitu.id. Caranya pun mudah karena hanya dengan mengisikan data diri, kemudian ikuti langkah-langkahnya sampai kepada akun pembayaran. Bayarnya pun bisa lewat e-wallet. Kemarin saya pakai GoPay. 

Selanjutnya kita akan dapat pemberitahuan di email jika pembayaran selesai dilakukan. Setelah adopsi pohon ini, saya merasa bangga karena bisa ikut menjaga hutan lewat adopsi pohon. Saya sudah, kalian, kapan? 

donasi-pohon

hutanitu.id, tempatnya donasi pohon mulai dari Rp 20.000,-

11. Tidak merokok

Saya bangga pada diri sendiri karena tidak merokok. Selain tidak sehat, rokok juga mengandung CO2 yang mendukung pemanasan global.

Walaupun pekat asap rokok tidak seperti asap kendaraan atau pabrik, tapi karena jumlah perokok sangat banyak, tentu efek negatifnya bisa cukup signifikan bagi kelestarian bumi. Bahkan puntung rokok pun dapat menyebabkan kebakaran hutan seperti di atas saya ceritakan.

tidak-merokok

Saya bangga tidak merokok. Dokpri

12. Tidak menyalakan petasan atau kembang api

Saat perayaan hari besar seperti lebaran, biasanya banyak petasan atau kembang api untuk meramaikan acara. Namun saya tidak suka dan hampir tidak pernah melakukannya.

Bagi saya, membuat petasan berarti harus kontak dengan bahan beracun yang berbahaya. Jangankan membuat, beli petasan pun saya tidak pernah.

Saat acara tahun baru, saya juga tidak pernah membeli atau membunyikannya. Satu tongkat petasan kembang itu cukup mahal hingga puluhan ribu. Begitu bunyi dorrrr meletus, hilanglah uang kita.

Kemudian asap dari petasan juga menimbulkan polusi karena mengandung bahan kimia seperti seng, timbal, magnesium, yang tidak dapat terurai sepenuhnya dan berbahaya bagi kesehatan manusia.

kembang api

Kembang api walaupun hanya dinyalakan setahun sekali, namun jika dilakukan serentak di seluruh dunia seperti tahun baru, efeknya tidak baik untuk bumi. Image by free stock photos from www.picjumbo.com from pixabay.com

13. Mendengarkan lagu “Dengar Alam Bernyanyi” yang dibawakan Laleilmanino bersama Chicco Jerikho, HIVI!, dan Sheila Dara Aisha

Aksi nyata melindungi hutan kini semakin mudah dan tak perlu langsung ke hutan dan gratis. Loh, ko bisa? Iya, caranya hanya dengan mendengarkan lagu #DengarAlamBernyanyi pada video di bawah ini. Nantinya royalti dari video tersebut akan disumbangkan untuk kelestarian hutan. Selain di youtube, kalian juga memutarnya di Spotify dan Apple Music.

Semakin banyak diputar, royaltinya pun akan semakin banyak. Jadi, sering-seringlah menonton, ya. Saya pun sudah melakukannya. Kalian juga bisa membagikannya di media sosial seperti facebook, twitter, story WA, instagram, dan sebagainya, agar semakin banyak yang menonton. Berikut videonya.

Kesimpulan

Saat ini kita sudah hidup di cuaca dimana krisis iklim atau efek pemanasan global sudah terasa. Bahkan kemarin malam saya baru saja mengalami hujan deras berhari-hari, tapi kemudian bulan muncul dan langit terang, dan kemudian hujan lagi. Dan ini aneh. 

Padahal harusnya di tempat saya sudah masuk musim kemarau. Aliasnya pergantian cuacanya tidak jelas. Tidak bisa ditebak apakah sudah musim kemarau atau penghujan?

Krisis iklim ini erat kaitannya dengan hutan dan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. Karena semakin hijau bumi kita, semakin nyaman untuk ditinggali.

Sebaliknya, semakin sakit bumi kita, semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Maka dari itu, kita harus bersatu dalam #TeamUpforImpact atau bekerjasama untuk dampak baik untuk perubahan agar tetap lestari hingga ke anak cucu kita nanti. 

Jika dari sekarang kita tidak peduli dan masa bodoh, maka yang akan menangggung akibatnya adalah anak cucu kita yang belum lahir. Bisa jadi mereka akan menyalahkan kita sebagai pendahulunya. Atau malah mereka akan mewarisi kebiasaan buruk tentang lingkungan yang sekarang dilakukan.

Jadi, lakukan yang terbaik dari sekarang untuk kebaikan bumi kita, lingkungan kita, hutan kita, agar mereka semakin tersenyum dan penghuninya ikut tersenyum.

Caranya pun beragam dan sangat mudah. Misalkan dengan tidak buang sampah sembarangan, atau bijak menggunakan kendaraan bermotor, dan sebagainya.

Akhirnya, itulah cerita saya mengenai indahnya lukisan Tuhan dan cara saya menjaganya. Saya melakukan ini secara sadar karena #UntukmuBumiku ini wahai para anak cucuku. Dan saya harap bukan hanya saya saja, tapi semua orang melakukannya dalam aksi nyata. 

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #DengarAlamBernyanyi dari Blogger Perempuan Network. Ikuti media sosialnya di bawah ini untuk update info terbaru darinya.

– Instagram: @bloggerperempuan
– Facebook: Blogger Perempuan Network
– Twitter: @BPerempuan

Sumber referensi artikel

1] https://www.merdeka.com/jatim/contoh-cara-menjaga-lingkungan-yang-baik-dan-benar-lakukan-hal-hal-berikut-ini-kln.html
2] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/penyebab-kebakaran-hutan-dan-cara-penanggulangannya
3] https://ilmugeografi.com/geologi/dampak-negatif-pertambangan-terhadap-lingkungan
4] https://nationalgeographic.grid.id/read/132544051/alih-fungsi-hutan-jadi-kebun-sawit-bikin-suhu-indonesia-makin-panas
5] https://klikhijau.com/read/3-penyebab-utama-kerusakan-hutan-yang-penting-diketahui/
6] https://hot.liputan6.com/read/4410645/11-penyebab-kebakaran-hutan-ketahui-dampaknya-bagi-lingkungan

Bagikan biar yang lain tahu