Saat ini suhu bumi naik sekitar 1,1 derajat celcius. Hanya tersisa 12 tahunan untuk naik sampai 1,5 celcius di awal tahun 2030-an atau sekitar 2032-2033. 

Hai teman, sadarkah kita jika bumi kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hujan berkepanjangan yang beberapa bulan lalu kita alami, merupakan dampak perubahan iklim yang sedang terjadi.

Turunnya air dari langit memang berkah dari Tuhan karena makhluk hidup tak bisa hidup tanpa air. Namun tentunya semua yang berlebihan tidaklah baik. Hujan berkepanjangan mengakibatkan bencana banjir dimana-dimana.

Bahkan daerah yang tadinya tidak pernah mengalami, pun ikut kena dampaknya. Seperti Banjarmasin misalnya. Bukan itu saja, karena pandemi covid-19 pun erat kaitannya dengan perubahan iklim, yang hingga 2 tahun ini belum juga kelar.

Selain hujan berkepanjangan, perubahan iklim juga mengakibatkan banyak masalah lain seperti naiknya permukaan air laut, suhu udara yang naik ekstrem di beberapa negara, dan dampak negative lainnya yang mungkin saja terjadi jika suhu bumi terus memanas.

climate-change-global-warming

Foto : https://pixabay.com/photos/polar-bear-planet-earth-bear-earth-5906016/

Terkait naiknya air laut, beberapa waktu lalu saat saya berkunjung ke pantai dekat saya tinggal, yaitu pantai Menganti Kebumen, ternyata air laut naiknya cukup jauh hingga ke daratan.

Dulu pas berkunjung tahun 2017, daratan masih tersisa cukup panjang. Namun di 2021 ini, air laut malah semakin naik. Selain itu, pantai-pantai di dekatnya seperti Pantai Suwuk pun beberapa kali mengalami pasang hingga ke jalan dan mengakibatkan banyak saung-saung pedagang hingga bangunan permanen pun rusak termakan ombak.

Terkait perubahan iklim ini, ada banyak sekali kesalahan manusia yang sedang dilakukan sekarang dan menjadi penyebab perubahan iklim. Namun sayangnya mereka seperti menutup mata dan enggan untuk peduli.

Misalnya seperti kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan, tapi banyak unsur kesengajaan yang dilakukan. Karena akhirnya hutan yang terbakar berubah hutan tanaman.

Baca Juga : Lindungi Lahan Gambut, Lindungi Fauna Indonesia

Kemudian penggunaan bahan bakar kendaraan yang tidak bisa dihentikan. Orang Indonesia saat ini masih bergantung dengan kendaraan bermotor seperti sepeda motor atau mobil misalnya. Bahkan dalam satu rumah bisa ada lebih dari 4 kendaraan.

Asap yang ditimbulkan dari polusi kendaraan atau kebakaran hutan berkepanjangan, akan naik ke awan dan membentuk efek rumah kaca. Kemudian panas matahari yang turun ke bumi akan dipantulkan ke bumi oleh gas rumah kaca tersebut.

Akibatnya, suhu bumi menjadi semakin panas dan es di kutub utara mencair. Karena mencair, tentu saja volume air laut meningkat dan membuat banyak daratan terancam tenggelam.

Nah, Pada 15 Oktober 2021 lalu saya mengikuti webinar tentang perubahan iklim yang menghadirkan narasumber yaitu Mbak Anggalia Putri Permatasari selaku Knowledge Manajer Yayasan Madani Berkelanjutan, bersama kawan-kawan Ekosquad blogger dan komunitas blogger perempuan.

Dalam sesi webinarnya, Mbak Anggi begitu sapaanya, menjelaskan bahwa pada awal 2030 nanti, suhu bumi kita akan naik 1,5 derajat celcius. Dan untuk kita ketahui, angka tersebut merupakan batas aman untuk suhu bumi kita agar tetap aman. Hal itu dikarenakan konsentrasi CO2 atau karbondioksida sudah sangat tinggi.

dampak-Perubahan-Iklim

Maka dari itu, kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sangat penting kita lakukan dan terapkan agar bumi kita tetap aman untuk ditinggali.

Jangan malah bilang “ah lebay lu ngurusin kayak gitu, peduli amat”.

Karena mau tidak mau, moment itu akan datang. Kalaupun kita tidak mengalaminya, anak cucu kita yang merasakan dan akan menyalahkan kita nantinya.

Lalu, seperti apakah kondisi bumi di tahun saat suhu di angka 1,5 derajat celcius di awal tahun 2030 nanti? Berikut pemaparannya

1. Musim kemarau bisa lebih lama dan lebih kering

Kekeringan-berkepanjangan

Foto : https://pixabay.com/illustrations/drought-desert-elephant-dry-1733889/

Saat di suatu daerah merasakan hujan berkepanjangan, di daerah lain justru dilanda kekeringan berkepanjangan.

Hujan berkepanjangan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu hingga mengakibatkan banyak daerah yang tadinya tidak pernah kebanjiran, malah banjir mendadak, juga terjadi akibat perubahan iklim.

Tidak heran sih karena memang kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di Kalimantan. Maka saat banjir terjadi, manusialah penyebabnya.

Kemudian jika membahas kemarau panjang, dalam laporan terbaru dari IPCC, sebuah laporan ilmiah yang khusus menangani perubahan iklim, pada kenaikan suhu 1,5 derajat celcius, kemarau panjang yang terjadi setiap satu dekade, bisa menjadi dua kali.

Sedangkan pada kenaikkan suhu 2 derajat celcius, kekeringan bisa terjadi 2,4 kalinya. Untuk diketahui juga, berdasarkan survey terahadap 10 ribu orang, adanya perubahan iklim disertai pandemi covid-19 ini juga mempengaruhi mental anak-anak muda usia 16-25 tahun.

Mereka merasakan kecemasan dan emosi negatif terkait perubahan iklim. Ya, itu memang wajar karena generasi muda lah yang akan lebih merasakan dampak perubahan iklim yang sedang terjadi. Berikut datanya.

 Perubahan-Iklim

2. Naiknya permukaan air laut

Naiknya-air-laut-akibat-pemanasan-global

https://pixabay.com/illustrations/pisa-leaning-tower-global-warming-1970198/

Mungkin semua orang sudah tahu jika pemanasan global sudah lama terjadi. Karena suhu bumi semakin memanas, maka es di kutub utara akan mencair dan itu tidak bisa dikembalikan lagi, dan mengakibatkan permukaan air laut semakin naik.

Dampaknya bagi banyak wilayah seperti di pesisir pantai adalah semakin tenggelamnya daratan, sehingga mengharuskan mereka untuk pindah. Tentu ini akan menyusahkan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai.

Bagi industry pariwisata lautan seperti pantai, mereka akan sangat terdampak. Naiknya air laut dapat merusak keindahan pantai, yang tentunya akan berpengaruh ke pendapatan pariwisata tersebut. Ini seperti yang terjadi di pantai Suwuk Kebumen.

Dulu sekitar tahun 2016, air laut masih jauh dari daratan. Namun sekarang air laut sudah semakin naik. Bahkan pernah juga sampai masuk ke daratan dan merusak banyak bangunan.

Bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir seperti di pantura misalnya, mereka juga akan terkena dampaknya. Air laut yang semakin naik akan masuk ke pemukiman warga dan membuat kampung mereka tergenang.

Seperti yang terjadi di salah satu daerah di Demak, Jawa Tengah. Dimana sebuah desa yang dulunya daratan, sekarang terapung dan menyatu dengan laut akibat naiknya air laut. Dan itu tidak mungkin untuk dikembalikan lagi seperti semula.

3. Gelombang panas lebih sering terjadi

Kemarau berkepanjangan akibat perubahan iklim akan membuat suhu bumi naik. Dulu sekali, saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana pohon pinus terbakar dengan sendirinya karena musim kemarau panjang. Dan apa jadinya jika suhu bumi naik ke 1,5 derajat celcius atau bahkan 2 derajat celcius.

Berdasarkan laporan iklim PBB, gelombang panas yang biasanya terjadi setiap 50 tahun, namun karena perubahan iklim, bisa terjadi setiap 10 tahun. Bencana kekeringan yang biasanya muncul sekali dalam satu dekade, bisa terjadi dalam 5 atau 6 tahun.

Dan ternyata gelombang panas ini juga terjadi di Amerika Serikat dengan suhu sampai 49 derajat celcius. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dengan cuaca yang sangat panas tersebut.

Rekor suhu terpanas di Kanada (1) dan Amerika Serikat (2). Geser.

4. Orang lebih mudah terkena penyakit

Suhu bumi yang semakin panas dapat menimbulkan beragam penyakit jika tidak segera diatasi. Melansir dari alodokter, beberapa penyakit yang terjadi akibat pemanasan global diantaranya sebagai berikut.

Penyakit pernapasan

Polusi udara dan zat berhaya lain yang terperangkap oleh bumi akan terhirup oleh manusia. Sehingga dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti seperti asma atau penyakti paru obstruktif kronis.

Kelompok anak-anak adalah golongan yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim. Polusi udara dari global warming juga dapat menghambat perbumbuhan paru-paru pada anak.

Penyakit menular

Curah hujan yang meningkat dan kenaikan suhu udara akibat perubahan iklim memicu hewan pembawa penyakit untuk berkembang. Apalagi Indonesia adalah negara dengan iklim tropis. Seperti nyamuk malaria yang dapat menyebabkan penyakit malaria, demam berdarah, atau kaki gajah.

Penyakit mental

Seperti di atas saya tuliskan, kelompok anak muda lebih merasakan kekhawatiran akan perubahan iklim yang akan terjadi. Dampak perubahan iklim tersebut akan mempengaruhi mental mereka. Orang jadi lebih mudah stress akibat bencana yang terjadi seperti kekeringan atau banjir.

5. Spesies hewan terutama hewan laut akan banyak yang mati hingga musnah

Punahnya-hewan-akibat-perubahan-iklim

Foto : https://pixabay.com/photos/bee-dead-pesticide-varoa-3415321/

Karena suhu bumi yang semakin panas, akan banyak spesies hewan mungkin akan musnah dan mungkin tidak bisa dikembalikan lagi. Tak terkecuali seperti spesies penghasil madu yaitu lebah yang memiliki banyak manfaat bagi manusia.

Untuk biota laut, saat ini saja sudah banyak sekali yang rusak. Dan jika suhu bumi meningkat maka air laut akan menjadi hangat. Hal itu akan menggangu pertumbuhan biota dan hewan laut seperti karang dan ikan, dan dapat mengakibatkan kepunahan.

Nah, dari kelima kondisi yang di atas, lalu bagaimana cara mengatasinya?

Berdasarkan Laporan IPCC, satu-satunya cara adalah dengan menekan laju pemanasan global dengan cara stop produksi emisi gas rumah kaca dalam tingkat tinggi. Karena jika tidak, maka pemanasa global dengan kenaikkan suhu 2 derajat celcius akan terjadi di abad 21 ini.

Sedangkan menurut Mbak Anggi dalam webinarnya, bisa dilakukan dengan menghentikan penggunaan batubara. Karena baturabara merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi karbondioksida penyebab efek rumah kaca semakin tebal.

Namun tentu saja ada banyak hal lain yang bisa dilakukan. Sederhana saja, misalnya mengurangi polusi dengan lebih memilih naik sepeda ontel atau naik umum ketimbang naik kendaraan pribadi.

Kemudian bisa juga dengan mengurangi penggunaan kantong plastik, tidak menyisakan makanan atau makan secukupnya, mengurangi konsumsi daging seperti kambing atau sapi, dan sebagainya. Karena ternyata daging hewan tersebut juga cukup mengandung karbon.

Penggunaan energy terbarukan juga sangat penting diterapkan. Seperti penggunaan biotermal, pembangkit listrik tenaga surya atau ombak, penggunaan bio gas yang didapat dari kotoran hewan, dsb.

Saat ini kita masih punya kesempatan sekitar 12 tahunan lagi untuk sampai ke awal tahun 2030-an. Dan waktu tersebut tidaklah lama karena durasi waktu sekarang begitu cepat berlalu. Jadi, mari sama-sama lakukan yang terbaik, jangan egois, agar bumi tetap dingin dan nyaman untuk ditinggali.

Sumber referensi artikel

Webinar perubahan iklim pada 15 Oktober 2021 bareng Mbak Anggalia Puteri Permatasari x Ecoblogger Squad

https://betahita.id/news/detail/6431/ipcc-kenaikan-suhu-bumi-bisa-mencapai-1-5-c-pada-2040.html.html

https://www.alodokter.com/pemanasan-global-turut-membawa-penyakit

https://www.dw.com/id/keadaan-bumi-ketika-target-iklim-gagal-tercapai/a-59488249

https://www.dw.com/id/kenaikan-suhu-bumi-lampaui-batas-aman-pada-2030/a-58809535

https://www.dw.com/id/gelombang-panas-sekali-dalam-50-tahun-bakal-melanda-setiap-dekade/a-58806417