Sumber gambar : Kjerstin Michaela Haraldsen from Pixabay 

Hai kawan, tahu tidak, menurut sumber data dari World Resources Institute (WRI), Indonesia masuk dalam daftar 10 negara yang kehilangan hutan hujan tropis tertinggi pada 2018 lalu pada angka 339.888 hektar. Lebih tepatnya, Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brasil dengan 1,35 juta hektar dan Kongo dengan 481.248 hektar. Mengenaskan.

Deforestasi ini terjadi akibat ulah manusia, seperti ekspansi perkebunan, kebakaran hutan baik yang disengaja atau tidak, maupun untuk pemukiman.

Bukan hanya itu, Indonesia juga pernah mengalami deforestasi yang lebih hebat lagi. Indonesia pernah kehilangan 3,51 juta hektar hutan pertahun pada 1999-2000, yang terbagi atas 2,83 juta hektar kawasan hutan, dan 0,68 hektar kawasan non hutan. Hal itu disebabkan karena kebakaran hutan yang hebat yang bahkan dampaknya sampai ke negara tetangga.

Kemudian deforestasi terbesar kedua yaitu pada tahun 2014-2015. Luas hutan yang terdampak yaitu 1,09 juta hektar dimana 0,82 juta hektar adalah lahan kawasan hutan, dan 0,28 adalah lahan non kawasan.

Dan sayangnya jumlah hutan juga terus berkurang. Misalnya karena pada 2019 lalu, Kalimantan dan Sumatera juga mengalami kepulan asap dikarenakan kebakaran hutan yang disinyalir ada unsur kesengajaan. Akibat yang ditimbulkan sangat merugikan masyarakat karena asap membuat masyarakat sulit bernapas dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kasihan sekali pokonya.

Nah, untuk diketahui pula, menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia pada 2016, Indonesia memiliki luas hutan 124 juta hektar. Namun setiap tahunnya hilang 684 hektar akibat illegal loging, pembakaran hutan, alih fungsi hutan, dsb. Bayangkan coba, padahal hutan adalah sumber pangan bagi seluruh makhluk hidup. Data lengkapnya bisa dilihat pada tabel dibawah : 

Deforestasi atau pengurangan hutan di Indonesia berdasarkan jenis lahan. Sumber : Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2019) via katadata. NoteKlik pada angka tahun untuk melihat jumlah hutan yang mengalami deforestasi.

Dari data di atas, kita tahu bahwa hutan kita sedang tidak baik-baik saja. Ayo, lakukan aksi nyata walaupun hanya langkah kecil agar hutan kita tetap lestari. 

Hutan sebagai sumber pangan

Sebagai orang yang tinggal di desa, saya tak pernah lepas dari yang namanya hutan (kami menyebutnya gunung, dan hampir setiap warga memilikinya). Hampir setiap hari bertandang ke gunung untuk mengambil sumber pangan. Misalnya nih ya karena saat ini di tempat saya, musim hujan mulai tiba, maka tunas bambu atau rebung mulai banyak tumbuh dan sering saya petik untuk dikonsumsi. Rebung ini memiliki masa panen yaitu hanya saat musim awal hujan saja, setelahnya tunas akan meninggi dan rebung jarang ditemui.

Selain rebung, di gunung yang kami miliki, sumber pangan lain pun banyak. Seperti melinjo, kelapa, kecipir, talas, singkong, cabai, uwi, gembili, gadung, dan sebagainya. Untuk rimpang-rimpangan, ada kencur, kunyit atau kunir, jahe, lengkuas, temu lawak, sereh, bangle, dsb. Untuk buah-buahan, ada pepaya, kelapa, jambu biji, pisang, dsb.

Sumber pangan dari gunung yang saya tanam. Dokpri

Di tempat kami dimana mata pencaharian penduduknya adalah petani, gunung adalah sumber pangan. Saat kebutuhan dapur mulai habis, maka di gunung tersedia banyak sumber pangan. Mereka tinggal memetiknya untuk diolah.

Aliasnya mereka tak perlu bingung saat bahan pangan di rumah habis, karena tersedia di gunung yang mereka miliki. Begitu juga dengan keluarga saya yang tak pernah ambil pusing saat tak ada bahan makanan di rumah. Karena berbagai hasil gunung bisa dipetik. Selain dikonsumsi sendiri, tentu juga seringkali dijual menambah pundi-pundi ekonomi keluarga.

Kontribusi hutan sebagai sumber pangan masyarakat sekitar hutan, jika dikaitkan dengan ketersediaan pangan dalam skala nasional, juga bisa terlihat dari hasil produksi pangan yang dihasilkan oleh kawasan hutan.

Berdasarkan data dari Kemenhut tahun 2008, luas hutan yang telah berkontribusi terhadap pangan nasional lebih dari 312 ribu hektar dengan tingkat produksinya yaitu 932 ribu ton yang terdiri dari jenis padi-padian, kemudian jagung, kedelai, dsb. Dan itu pun belum tercatat dengan baik dalam statsistik nasional karena terkendala dengan sIstem pencatatan dan pelaporan.

Dari data di atas, sumber makanan dari hutan memang melimpah. Tapi, apa yang akan terjadi jika sumber pangan dari hutan habis ? Karena mungkin saja itu terjadi. Secara kerusakan makin tahun makin parah.

Berikut penjelasan dari infografis di atas

1. Hewan hutan turun ke pemukiman

Salah satu hal yang sering terjadi akibat sumber pangan di hutan mulai habis adalah saat kawanan kera hutan turun ke pemukiman untuk mencari makanan. Beberapa penyebab seperti kerusakan hutan akibat kebakaran dan penebangan hutan yang mengakibatkan hilangnya pepohonan sebagai sumber makanan mereka.

Selain kera, seringkali babi hutan juga terkadang turun untuk mencari makan dan biasanya merusak kebun-kebun warga. Dan tentunya ini meresahkan karena babi hutan bisa saja menyerang manusia. Berkurangnya sumber pangan hutan jika terjadi dalam jangka panjang, juga akan mengancam kehidupan flora dan fauna didalamnya, bahkan sampai kepada kepunahan.

2. Kesulitan bahan pangan bagi manusia

Bagi masyarakat yang tinggal disekitar hutan yang memang lebih menggantungkan hasil pangan dari hutan, tentu kehidupan mereka akan terganggu karena kesulitan mencari bahan pangan. Bagaimana tidak, karena sumber pangan seperti tumbuh-tumbuhan berkurang bahkan habis. Dampaknya, kemiskinan dan kelaparan bisa saja terjadi. Harga kebutuhan pokok naik karena kelangkaan bahan pangan. 

3. Berkurangnya pendapatan

Bagi warga sekitar hutan yang mengandalkan penghasilan dari hasil hutan, berkurangnya hasil hutan tentu akan menurunkan pendapatkan atau penghasilan mereka. Misalkan untuk para petani karet, jika misal hutan habis terbakar ataupun penebangan, tentu pendapatan mereka akan berkurang bahkan hilang. Karena berkurang, kemiskinan pun mengancam. 

4. Oksigen berkurang

Pepohonan adalah sumber oksigen untuk semua mahluk hidup. Jika pepohonan berkurang atau bahkan hilang akibat kebakaran ataupun penebangan liar (sayangnya banyak kerusakan hutan akibat disengaja), maka akan mengganggu kehidupan manusia karena jumlah oksigen tentu akan berkurang.

Anda bisa lihat sendiri saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan yang harus menderita sesak napas karena pembakaran hutan pada 2019 lalu. Bahkan hal itu sampai merambat ke Negara tetangga. Memalukan sekali, bukan ? Nah maka dari itu, aksi menjaga agar lingkungan tetap asri lestari perlu dilakukan.

Untuk diketahui, jenis pohon tertentu seperti pinus dan karet juga termasuk sumber pangan karena getahnya dapat dijual dan menghidupi mereka.

5. Kekurangan gizi (bisa saja terjadi)

Kekurangan gizi bisa saja terjadi pada mereka yang memang menggantungkan hidup dari hutan akibat berkurang atau habisnya sumber pangan hutan. Mereka kesulitan mencari bahan pangan untuk dikonsumsi, sehingga hanya makan seadanya. 

Note : icon 1, 2 dan 5 by freepik.com

Dari semua dampak di atas, kemudian bagaimana sih cara agar sumber pangan hutan tidak habis?

Berikut penjelasan dari infografis di atas

1. Menanam pohon sumber pangan

Cara terbaik agar sumber pangan hutan tidak habis adalah dengan menanam. Dengan menanam tentunya jumlah sumber pangan hutan akan bertambah dan terus bertambah. Dengan menanam pula, berarti kita akan menuai panen dimasa depan. Menanan pohon itu baik, terutama untuk lahan atau kawasan hutan yang gundul agar dapat hijau kembali.

Selain pohon, tentunya kita dapat menanam berbagai macam bahan pangan hutan seperti diatas saya tuliskan. Tujuannya selain untuk menjaga ketahanan pangan, juga agar masyarakat lebih mandiri bahwa hutan dekat mereka tinggal juga merupakan sumber pangan.

2. Melakukan sistem tebang pilih dan tebang tanam

Sistem tebang pilih adalah menebang pohon secara bijaksana dengan mengambil yang perlu saja. Misalkan yang sudah tua dan layak pakai, baru diambil. Dan tidak mengambil atau menebang yang belum layak pakai karena bentuk kayu yang kurang bagus atau karena masih muda.

Kemudian untuk tebang tanam, berarti ada ganti bibit baru setelah pohon ditebang. Jadi keberadaan pohon akan terus ada dan berkelanjutan, sehingga hutan akan tetap hijau dan sumber pangan tetap tersedia.

3. Memberikan sangsi kepada perusak hutan

Hutan kita itu setiap tahunnya berkurang ratusan hektar. Dan sayangnya kebanyakan penyebabnya adalah karena pembakaran secara sengaja ataupun illegal logging atau pembalakan liar. Nah, dengan memberikan sanksi kepada pelaku perusakan hutan, akan membuatnya jera dan tidak melakukannya lagi. Dalam hal ini, masyarakat juga harus bekerjasama dengan pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan.

4. Tidak membuang sampah di hutan

Mungkin kalian pernah melihat pemandangan betapa kotornya kawasan gunung yang biasa jadi tempat pandakian, akibat dari para pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Walaupun sampah yang ada tidak terlihat mencolok atau mendominasi, namun tetap saja membuang sampah di hutan tidak bisa dibenarkan.

Sekecil apapun sampah dapat berefek buruk pada alam. Misalkan sampah puntung rokok yang dibuang saat masih menyala saat berada di hutan. Dapat berpotensi terjadinya kebakaran hutan, iya enggak ? Makanya, biarpun di hutan, jangan buang sampah sembarangan. Lagian kehijauan hutan juga akan berkurang keindahannya karena tumpukan sampah.

5. Mendidik generasi sadar sumber pangan hutan

Nah, ini yang paling penting. Menanamkan kesadaran kepada generasi muda kita untuk menjaga sumber pangan hutan adalah modal awal agar sumber pangan tetap ada. Apa gunanya sumber pangan melimpah, namun jika kesadaran akan sumber pangan tidak ada.

Para praktiknya, kita bisa mengedukasi pada anak cucu kita bahwa bahwa menanam itu adalah aset berharga agar bisa dipanen dimasa depan. Kemudian edukasi seperti pada point 2 di atas juga penting. Dengan begitu sumber pangan hutan tetap ada karena bijak dalam mengelolannya.

Jika 5 cara di atas berkontribusi pada kelestarian sumber pangan hutan, maka apa yang sudah kamu lakukan agar sumber pangan tetap lestari ? 

Ouw, tentu ada dong. Seperti yang saya singgung di atas, yaitu karena saya banyak sekali menanam sumber pangan dari hutan. Dan setiap waktunya saya selalu menanam asalkan lahannya masih muat. Di gunung, saya menanam kecombrang, singkong, dan talas yang merupakan sumber pangan hutan. Selain bahan pangan, saya juga menanam albasia dan pohon mahoni untuk menjaga agar tanah tidak longsor. Oiya, saya juga sudah melakukan 11 aksi nyata agar hutan dan bumi kita tetap lestari lho.

Menanam kecombrang dan albasia. Dokpri

Dari semua sumber pangan hutan yang ada, adakah makanan favorit kamu ?

Tentu ada dong, yaitu gembili. Gembili adalah sejenis umbi-umbian yang saat ini masih tumbuh subur di daerah pegunungan dekat saya tinggal.

Cara memasak gembili ini cukup mudah yaitu dengan cara dikukus ataupun dibakar. Jadi bagi kalian yang sedang laper ditengah hutan dan kebetulan menemukan tanaman ini, tak perlu pusing cara mengolahnya karena bisa dibakar lalu dimakan. Atau mungkin buat yang lagi camping dan bawa peralatan masak, bisa juga dikukus.

Pada foto dibawah hanya ada 2 buah gembili dan itupun kecil. Itu karena musim awal hujan begini, gembili baru mulai tumbuh. 

Gembili, makanan favoritku. Dokpri

Seringkali saat saya sedang berada d ipegunungan, saya pun sering bakar ini. Rasanya nikmat dan empuk. Gembili ini menurut saya rasanya lebih nikmat ketimbang umbi-umbian lainnya. Karena dagingnya lebih empuk dan kulitnya juga tipis serta mudah dikupas. Gembili ini tumbuh secara merambat seperti pohon. Dan pada bagian akarnya memilik duri yang cukup tajam. Jadi saat harus hati-hati saat memetiknya.

Alasan saya suka gembili

Alasan saya suka dengan gembili ini adalah selain rasanya yang manis serta mudah cara mengolahnya, gembili juga mengenyangkan. Seringkali saat pagi dan ada gembili di rumah, dapat mengganjal perut sebelum sarapan. Warna dagingnya putih dan sebagian ada yang empuk ada yang agak keras.

Untuk gembili yang mempur (gembur), tekstur daginya masir (seperti tekstur pasir) dan terlihat seperti ada putih-putih gula pasirnya, makannya rasanya manis. Dari semua umbi-umbian yang ada, gembili paling saya sukai karena rasanya manis dan dagingnya empuk.

Lalu, apa manfaat gembili ini ?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti serat pangan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK), yaitu Dr. Sunarti M.Kes, pada acara talkshow Serat Pangan Dalam Penanganan Sindrom Metabolik di ruang Perpustakaan UGM Yogyakarta, mengemukakan bahwa, ubi gembili dan juga tanaman lain yaitu tepung irut (jawa : angkrik), kedua bahan pangan ini memiliki indeks glikemik rendah di angka 32 biarpun kandungan serat panggannya cukup tinggi. Sehingga dapat dikonsumsi penderita diabetes.

Indeks Glikemik (IG) adalah indikator seberapa cepat suatu makanan dalam tubuh dapat diubah menjadi gula. Sedangkan serat pangan sendiri dapat melindungi tubuh manusia dari penyakit yang disebabkan oleh pola makan yang kurang baik. Seperti diabetes, jantung, kanker usus, dan obesiatas.

Kemudian, mengapa orang harus tahu gembili ini?

Selain karena rasanya yang nikmat, bikin kenyang, dan dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes setelah dilakukan uji klinis, gembili juga dapat diolah menjadi kreasi masakan lain. Contohnya seperti Pancake gembili, timus gembili, pais gembili, sempolan gembili, dsb. Jadi buat para emak-emak, bisa coba resep gembili ini di rumah.

Berbica soal hutan, ternyata aksi pelestarian hutan juga dilakukan oleh WALHI atau Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. WALHI adalah organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia yang memiliki anggota berjumlah 487 oragnisasi, yang terdiri dari unsur organisasi non pemerintah dan organisasi pecinta alam. Dan juga 203 anggota individu yang tersebar di 28 Propinsi di Indonesia. WALHI adalah organisasi yang mengupayakan dan mengusahakan aksi penyelematan lingkungan hidup di Indonesia.

Dalam aksi nyatanya, salah satu satu contoh kontribusi nyatanya dalam hal ini yaitu WALHI Jabar, yaitu membantu menyuarakan aspirasi masyarakat atas proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) karena merampas ruang hidup warga. WALHI Jabar mendesak DPRD Indramayu untuk menghentikan proyek tersebut karena merugikan warga setempat.

Kemudian untuk WALHI Lampung, juga menangani kasus-kasus yang erat kaitannya dengan pohon. Seperti illegal logging yang marak terjadi. Intinya, WALHI berkontribusi pada hal-hal terkait lingkungan untuk mendukung terciptanya kelestarian bumi.

Kesimpulannya, hutan kita adalah sumber pangan. Ada banyak sekali kekayaan pangan di hutan yang bisa kita temui dan adakan. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hutan, keberadaan hutan layaknya lumbung padi mereka. Untuk saya sendiri, pun sebagian besar masih mengandalkan hutan sebagai sumber pangan. Akhir kata, ayo lestarikan hutan Karen hutan adalah sumber pangan dan sumber penghidupan.

Note : Deforestasi adalah kegiatan alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, pemukiman, peternakan, dsb. 

Sumber referensi artikel

1. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/08/20/inilah-deforestasi-di-indonesia-periode-1990-2017
2. https://regional.kompas.com/read/2016/08/30/15362721/setiap.tahun.hutan.indonesia.hilang.684.000.hektar
3. https://krjogja.com/kolom/opini/potensi-hutan-tanaman-pangan/
4. https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/dampak-akibat-hutan-gundul
5. https://ugm.ac.id/id/berita/16046-garut-dan-gembili-cocok-dikonsumsi-penderita-diabetes