2018 lalu saya berhasil membangun rumah saat usia masih bujang dan belum menikah. Tentu ini adalah pencapaian luar biasa yang berhasil saya lakukan setelah montang-manting kerja keras siang dan malam.

Saat ditanya ortu apakah kamu akan menikah dulu atau bikin rumah dulu, maka saya jawab memiliki rumah dulu agar begitu menikah nanti, saya langsung bisa memboyong istri ke rumah baru saya.

Karena selain kepastian, perempuan dan mertua juga butuh kemapanan dong. Dan menantu idaman mertua bukan hanya mereka yang PNS doang, tapi mereka yang mapan. Setuju enggak?

Baca Juga : Punya Budget 400 Jutaan, Bisa Beli Rumah Seperti Apa di Medan?

Ini adalah rumah yang bangun 2018 lalu dari hasil menabung, saat masih bujang. Bahkan saya menabung dalam celengan plastik. Sekarang saya sudah menikah dan rumah saya tempati bersama istri tercinta. Foto ada di bawah. Saat para millenial asik-sikanya travelling dan nongkrong kece, saya memilih untuk menabung dengan presentasi lebih besar saat gajian hingga rumah ini terbangun.

Namun sayangnya banyak millenial zaman sekarang yang pola pikirnya, yah, mungkin bisa dibilang terbalik dengan generasi orang tua kita yang lebih memikirkan masa depan ketimbang kesenangan. Jika orang tua kita dulu sukanya membelanjakan uangnya untuk benda berwujud seperti tanah atau sawah, anak muda zama sekarang lebih memburu lifestyle ketimbang pengaturan finansial atau keuangan.

Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh lifepal untuk anak muda Jakarta, mereka bahkan ada yang sampai menghabiskan 7 juta per bulan hanya untuk memenuhi hasrat lifestyle. Contoh seperti travelling, nonton, nongkrong di cafe, shopping, internetan, dan ngopi. Itu pun dari level ekonomi menengah. Bagaimana mereka yang dari kalangan ekonomi atas?

Bahkan untuk sekedar ngopi saja, mereka bahkan habis sampai 1 juta perbulan. Baru berangkat kerja udah ngopi. Satu tangan membawa tas kerja dan tangan lainnya memegang kopi. Kopi yang dimaksud adalah kopi kekinian yang harganya lumayan mahal sekitar dari 10 sampai 50 ribu. Bukan yang segelas 5 ribu. Berikut adalah inforgrafisnya.

Pengeluaran keuangan millenial Jakarta hanya untuk lifestyle (MoneySmart/Indri Solihin)

Dari infografis di atas, menjadi bukti bahwa generasi millenial lebih memprioritaskan lifestyle yang sifatnya konsumtif, ketimbang generasi baby boomers yang lebih memilih investasi seperti tanah, sawah, atau kebun, yang tujuannya tidak lain agar selain untuk investasi, tentu agar mereka bisa membangun rumah untuk anak-anaknya kelak. Seperti yang dilakukan orang tua saya, hingga saya bisa membangun rumah diatas tanah yang sudah dibelinya dulu.

Baca Juga : 7 Tips Menjual Rumah di Era Digital Agar Cepat Terjual

Nah, dari penjelasan diatas, sekiranya ada 5 alasan mengapa millenial sulit beli rumah. Berikut infografisnya.

Infografis mengapa millenial sulit beli rumah. Sumber : Shariagreenland

Dari infografis tersebut, ternyata di usia 20an mereka banyak melakukan kesalahan dalam pengaturan keuangan. Dilansir dari cermati.com, ini dia 5 kesalahan millenial di usia 20an yang diduga merupakan penyebab sulitnya millenial membeli rumah.

1. Gaya hidup konsumtif dan lebih mementingkan lifestyle

Sumber foto : freepik.com

Seperti di atas saya terangkan, gaya hidup millenial yang terbilang lebih memprioritaskan kesenangan dan sifatnya konsumtif, tentunya membuat keuangan mereka bermasalah. Anggaran untuk lifestyle ini menurut infografis di atas, bisa sampai 7 juta perbulan. Itu pun untuk millenial kelas menengah. Bagaimana dengan mereka yang dari kalangan elit? Bahkan untuk jatah ngopi saja saja bisa sampai 1 juta perbulan.

Kalau saya perhatikan di media sosial, memang sih banyak anak-anak muda yang hobinya travelling, nonton, hangout, nongkrong di cafe, ngopi kekinian, dan hal lainnya yang sifatnya konsumtif. Selain itu, mereka juga seringkali membeli barang karena tren. Hanya karena jalan-jalan ke mall dan tidak sengaja melihat barang keren yang sedang diskon, saldo tabungan pun berkurang. Sangat disayangkan sekali, bukan?

2. Tidak punya dana darurat

Sumber foto : freepik.com

Dana darurat sangat penting untuk dimiliki oleh millenial. Pasalnya tabungan darurat ini akan sangat membantu untuk kebutuhan mendesak. Misalnya seperti biaya berobat karena sakit dan biaya tak terduga lainnya. Sayangnya gaya hidup millenial yang konsumtif diduga membuatnya tidak memikirkan hal ini. Untuk kondisi sekarang yang mungkin masih aman-aman saja, tapi kita tentu tidak memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Untuk saya sendiri, saya berencana menyimpan dana darurat di rekening terpisah. Jadi ada dua rekening. Satu rekening harian, dan satunya lagi untuk rekening darurat.

Baca Juga : Hampir Gagal Dapat Job Blogger Gara-gara Tidak Punya Rekening BCA. Buka Tabungan Xpresi BCA Cuma 50 Ribu

3. Berhutang kartu kredit

Sumber foto : freepik.com

Bagi yang belum tahu, kartu kredit bukanlah tabungan, melainkan hutang. Saat kartu kredit di gesek, maka tagihan akan menanti saat sudah waktunya. Sayangnya hal ini banyak dilakukan millenial di usia 20-an yang suka kalap jika melihat sesuatu yang sedang tren dan unik. Hal ini membuat kondisi finansial millenial menjadi berantakan.

Pernah suatu kali saya membaca artikel, seorang perempuan muda yang menjual tas seharga yang dibelinya seharga 1,2 juta (kalau tidak salah), hanya karena karena kalap mata melihat diskon besar, kemudian ia membelinya. Namun dijual kembali karena ternyata tidak dipakai dan ia pun merasa menyesal.

Baca Juga : 6 Alasan Kenapa Travel Blogger Wajib Memiliki Kartu Kredit

4. Tidak memikirkan perencanaan keuangan jangka panjang

Gaya hidup yang konsumtif membuat millenial tidak terpikirkan untuk melakukan perencanaan keuangan jangka panjang. Hal ini penting dilakukan agar masa depan lebih baik karena kita tidak bisa memprediksi masa depan akan gimana? Apakah mau jika harus mengontrak terus atau bareng mertua terus? Apakah tidak kepengin beli rumah sendiri? Dan apakah sudah terpikirkan untuk dana pensiun?

Baca Juga : Jurus Mengelola Keuangan Ala Saya dan Terbukti Ampuh

Perencanaan keuangan jangka panjang ini penting dilakukan agar masa depan lebih terjamin. Tentunya kita tidak mau kan saat tua nanti, malah akan merepotkan anak cucu kita karena kesalahan pengaturan keuangan di umur 20-an?

5. Tidak berinvestasi

Ini adalah emas yang saya jual hasil investasi dan uangnya saya pakai untuk membangun rumah. Dokpri

Banyak orang-orang kaya yang berawal dari investasi. Namun sayangnya banyak anak muda yang enggan melakukannya. Padahal nilai menyimpan uang dalam bentuk investasi, nilainya akan terus bertambah. Mungkin harga emas di pegadaian saat ini baru baru 890.000 per gram, namun 5 tahun kedepan bisa 1.500.000 per gram. Begitu juga dengan jenis emas lain seperti emas batangan atau perhiasan, tentu harga akan naik terus seiring berjalnnya waktu. Baca pengalaman saya beli emas antam online di sini. 

Baca lainnya Juga :

1] Pengalaman Menjual Emas Antam di Butik Emas Antam Yogyakarta
2] Baru Sebentar Sudah Untung – Berikut Pengalaman Saya Menabung Emas di Pegadaian

Investasi juga bisa dilakukan dalam banyak jenis. Semisal deposito bank jika ingin mengambil jangka pendek, kemudian bisa dalam bentuk properti, saham, reksadana, dll. Mengambil salah satu investasi dan dijalan dengan konsisten, tentu hasilnya akan menggiurkan di masa depan.

Masa muda adalah masa yang paling menyenangkan. Terlebih bagi mereka yang masih melajang dan hidup masih ditanggung orang tua. Jangan pernah bilang jika hidup hanya sekali, karena waktu tak akan pernah kembali. Manfaatkan sebaik mungkin terutama dalam hal perencanaan keuangan. Dengan perencanaan keuangan yang baik dan konsisten, memiliki rumah sebelum menikah pun tak mustahil didapatkan. Seperti pada cerita saya di atas.

Baca Juga : Jangan Sia-siakan Masa Mudamu – Ini dia Perbedaan Saat Masih Bujang vs Sudah Nikah

Ini adalah rumah saya yang saya tinggali saat ini yang dibangun saat masih bujang dulu. Dokpri.

Oiya, buat kamu yang suka dengan tips finansial, berita bisnis dan ekonomi,  keuangan, wartaekonomi adalah portal berita yang membahas banyak tips mengenai ekonomi dan bisnis dengan perspektif baru. Sifatnya yang komprehensif dan lengkap, diharapkan dapat menjadi referensi terbaik agar suatu bisnis dapat berjalan dengan baik.

Berita-berita yang disampaikan pun dibuat sedemikian rupa agar pembaca dapat mengetahi perkembangan bisnis secara umum, dari skala daerah, regional, nasional, bahkan global, dan seperti apa pengaruhnya terhadap dunia bisnis.

Sebagai penutup, sesan saya sebagai orang yang sudah pernah muda, hidup itu memang cuma memang sekali, tapi ada masa depan yang harus kamu hadapi. Dan pastinya masa depan tergantung apa yang kita usahakan. Jika sekarang malas-malasan, maka apa yang kamu dapatkan sesuai yang kamu lakukan sekarang. Jika sekarang kamu bekerja keras, maka hasil tak akan menghianati proses. Dan selagi masih muda, perencanaan keuangan penting agar tak menyesal saat tua nanti.

Sumber referensi artikel

https://shariagreenland.co.id/generasi-milenial-susah-beli-rumah/
https://lifepal.co.id/media/konsumtif-dan-boros-jadi-gaya-hidup-milenial-jakarta/
https://www.cermati.com/artikel/7-kebiasaan-mengatur-keuangan-yang-salah-pada-usia-20-an