Foto : Jubi/geckoproject.id

Musim hujan yang tak kunjung reda saat ini disinyalir akibat perubahan iklim. Jangan sampai musim kemarau depan juga berkepanjangan karena akan sangat menyulitkan.

Dulu sewaktu istri saya masih menimba ilmu di sebuah lembaga pendidikan di kota saya tinggal, ia punya seorang teman dari Jambi dan pernah bercerita bahwa di tempat ia tinggal, lingkungannya sangat tercemar. Air dalam tanah gambut di daerahnya berubah hitam seperti kolam ikan dan mengandung minyak. Dan tentu saja itu sangat tidak sehat jika dikonsumsi.

Jika kalian pernah mencelupkan minyak ke dalam air, maka seperti itulah wujudnya. Namun ini warnanya hitam. Dan tentu saja tidak mungkin jika air tersebut dikonsumsi. Yang ada malah menimbulkan penyakit.

Hal itu dikarenakan pencemaran limbah pabrik di daerahnya. Karena tak ada pilihan, maka ia terpaksa menggunakannya untuk hal lain kecuali dikonsumsi. Untuk konsumsi ia membelinya.

Bukan hanya itu, kemarin tepatnya tanggal 14 April 2021 saat saya mengikuti webinar bertemakan hutan, Mas Yuyun selaku Manager Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau WALHI, juga menuturkan kalau di Jambi pernah mengalami dimana suatu hari langit menjadi merah yang sepertinya diakibat pembakaran hutan. Suasana yang cukup mencekam.

Oke teman…

Jadi seperti di atas saya tuliskan, saya baru saja mengikuti webinar yang di adakan oleh kumpulan blogger lingkungan bersama lembaga terkait lingkungan seperti WALHI (Wahana lingkungan Hidup Indonesia), LTKL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari), HII (Hutan Itu Indonesia) dan BP (Blogger Perempuan).

Eco-Squad-Blogger-Gathering-Online

Acara bertemakan “hutan sebagai salah satu solusi dalam mitigasi perubahan iklim” ini menghadirkan narasumber seperti Mas Yuyun Harmono yang menjabat sebagai Manager Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Kemudian ada Kak Gita Syahrani sebagai Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Dan Mas Christian Natali sebagai Manager Program Hutan Itu Indonesia (HII).

Tiga narasumber webinar

Sebagai pemandu acara ada Kak Fransiska Soraya atau Kak Oca. Acara tersebut mendatangkan banyak ilmu tentang perubahan iklim dan pentingnya menjaga hutan yang bermanfaat sekali untuk bagi semua peserta.

Acara ini dihadiri oleh 30 blogger terpilih dari 1000 lebih submition blog. Kalau saya tebak sih mereka berasal dari 5 lomba blog yang diadakan oleh Blogger Perempuan (BP) dimana mereka adalah para pemenangnya.

Kami para blogger menyebutnya dengan Eco Blogger Squad sebagai komunitas blogger yang peduli dengan isu lingkungan hidup terutama perubahan iklim dan kepedulian hutan. Beberapa tulisan saya terkait hal tersebut seperti:

1. Pentingnya Menjaga Hutan Sebagai Sumber Pangan

2. Diprediksi 5 Pulau Ini Akan Tenggelam, Berikut 11 Aksi Nyata Saya Lestarikan Bumi

3. Tiga Bulan Ini Saya Tak Buang Sampah Setelah Diubah jadi Pupuk Berkat “Ember Ajaib” Buatanku

Sebelum acara ini berlangsung, kami juga sudah menerima paket dari Blogger Perempuan berupa hasil hutan non kayu. Seperti tas purun, kemudian Sago Pancake Mix bebas gluten produksi Bueno Nasio yang dibuat dari Sagu. Kalau enggak salah itu produk dari hutan Papua. Lalu ada Sure Coffe yang merupakan kopi dari hasil hutan di Bali dan NTT. Dan kesemuanya merupakan produk ramah iklim dan ramah sosial.

Kesan pertama dengan produk ini adalah karena wadahnya dari kertas yang mudah terurai sehingga tidak mengotori lingkungan. Dengan membeli produk ini, berarti kita mendukung petani atau UMKM lokal yang mana mereka mengambil bahan bakunya dari hutan. Aliasnya melindungi hutan.

Produk hasil hutan non kayu

Acara ini dimulai dengan kuis yang menarik dan pemenang dipilih di akhir acara. Dan langsung saja, kita masuk ke narasumber pertama yaitu Mas Yuyun Harmono dengan judul presentasi yaitu “krisis iklim dan transisi yang berkeadilan”.

Pada presentasinya, Mas Yuyun mengatakan bahwa krisis iklim ini sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia. Baik perilaku individu, ekonomi, sosial dan juga model produksi dan konsumsi. Sehingga apa yang kita lakukan bukan hanya berpengaruh pada diri kita, tapi juga bumi kita. Saat ini bumi kita sedang tidak baik baik saja. Suhunya sudah mendekati 1,5 derajat celcius.

Mengapa kamu harus tahu itu? Tentu saja itu penting karena dampaknya sangat luar biasa. Suhu bumi kita saat ini terus meningkat. Di tahun 2017 saja sudah 1.1 derajat celcius. Untuk Indonesia sendiri gradasi perubahan suhunya mendekati warna merah menuju 1.5 derajat celcius.

Gradasi warna perubahan suhu menuju merah untuk negara Indonesia.

Menurut ilmuwan terkait dari berbagai negara, kalau kita melewati ambang batas 1.5 derajat celcius, maka akan terjadi pemusnahan yang tidak bisa dihindari. Misalnya seperti tenggelamnya pulau-pulau kecil dan semakin buruk dampaknya pada negara-negara tropis dan subtropis di bagian bumi selatan.

Pada suhu tersebut, sebanyak 70-90 persen terumbu karang juga akan hilang dan tidak dapat dipulihkan kembali. Suhu dan keasaman laut akan meningkat yang berdampak pada keselamatan perkembangan dan pertumbuhan kehidupan di laut. Dan kemungkingan besar akan terjadi hilangnya spesies mahkluk hidup tertentu dan kepunahan.

Pada suhu tersebut, bencana seperti kekurangan air dapat terjadi di lebih separuh penduduk dunia terutama di kawasan Mediterania dan Afrika bagian selatan.

Kemudian kemungkinan gagal panen dan kekurangan pangan juga dapat terjadi karena tidak dapat diprediksi kapan waktunya musim hujan dan musim kemarau. Dan tentu saja ini berdampak dengan masyarakat yang hidup di kota dimana sumber panga berpusat di pedesaan yang merupakan pusat sumber pangan.

Mungkin kita tak menyadari bahwa dimana hujan yang tak kunjung usai ini, juga bisa dikaitkan dengan perubahan iklim. Jangan sampai musim kemarau mendatang juga akan berkepanjangan karena akan sangat menyulitkan. Bencana yang terjadi dimana-mana seperti banjir juga dapat diduga jika penyebab utamanya adalah perubahan iklim.

Potensi kerusakan akibat pemanasa global

Untuk kesehatan, saat ini covid-19 yang sedang berlangsung juga bisa dikaitkan dengan kerusakan lingkungan. Ini juga perlu kita waspadai ketika kerusakan ekosistem dan perubahan iklim terus terjadi.

Trend bencana di Indonesia sepanjang tahun 2009 – 2019 seperti puting beliung, banjir, atau tanah longsor, awalnya juga dipicu oleh faktor iklim. Dalam 10 tahun terakhir, bencana hidrometerologi juga trendnya semakin meningkat. Misal seperti banjir bandang seperti di Banjarmasin kemarin yang sebelumnya belum pernah teradi. Juga siklon di NTT dan NTB.

Trend bencana hidrometeorologi

Krisis iklim juga terjadi karena efek Gas Rumah Kaca (GRK) yang mana sumbernya berasal dari berbagai sektor. Seperti sektor energi seperti dilanggengkannya izin pendirian tambang batu bara, penggunaan energi fosil, dsb. Untuk sektor berbasis lahan misalnya seperti kebakaran hutan yang dulu pernah terjadi di wilayah Sumatera dan menimbulkan langit gelap dan menutup jarak pandang.

Faktor penyumbang emisi gas rumah rumah kaca.

Kemudian untuk melakukan mitigasi perubahan iklim, juga dilakukan prinsip energi berkeadilan. Point-pointnya ada di bawah ini :

Jika kita berbicara tentang hutan. Ada sebuah kampung yang mana mereka sedang dalam proses pengajuan pengakuan hutan adat mereka ke pemda dan sudah mendapatkan SK (surat keputusan). Mereka menyebut masyarakat adatnya dengan nama Siberuang yang berada di dusun Silit, Desa Nangapari, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Wilayah dengan luas sekitar 5200 hektar dan dihuni hampir 80 kepala keluarga ini, praktek pelestarian hutan sudah dilakukan disana. Jadi, mereka memanfaatkan hutan secara lestari.
Mengolah produk hutan non kayu sekaligus menjamin ketersediaan sumber air. Dan yang paling inspiratif adalah karena mereka berhasil membuat mikrohidro berupa pembangkit listrik tenaga air untuk menerangi kampung mereka sendiri.

Ini berarti menjaga hutan tetap lestari memberikan benefit tersendiri baginya. Teknologinya juga sederhana sehingga tidak bergantung pada tekhnisi luar, sekaligus mewujudkan cita-cita bersama bahwa listrik merupakan bagian dari hak asasi bahwa semua bisa dapat listrik.

Pembangkit listrik tenaga air di Desa Nangapari, Sintang, Kalimantan Barat.

Nah, itu dia materi dari Mas Yuyun. Selanjutnya kita berlanjut ke pemateri yang kedua yaitu Kak Gita Syahrani dari LTKL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari) yang meneruskan tema dari Mas Yuyun.

Dalam presentasinya ia menunjukan sebuah gambar mengenai satu kota di Kamboja dengan sebuah candi dililit akar pohon. Ini menjadi gambaran bahwa jika tidak ada manusia, tumbuhan atau makhluk hidup selain manusia akan mengambil kembali miliknya.

Beberapa study juga menyatakan tentang ramalan masa depan kalau enggak ada manusia, bumi akan baik-baik saja. Jadi, merayakan hari bumi itu bukan tentang menyelamatkan bumi, tapi menyelamatkan manusia. Jadi kalau kita emang masih peduli dengan orang-orang tercinta kita, ayah, ibu, kakak, adik, anak, istri, suami, dll, menyelamatkan bumi itu menyelamatkan kita bersama.

Reclaim alam yang tak dihuni mansusia

Dan seperti saya singgung di atas. Bahwa adanya covid-19 ini seperti mengembalikan kembali fungsi alam. Bumi menjadi lebih dingin sejenak. Polusi berkurang. Dan mungkin kalian pernah melihat tayangan yang sempat trending di instagram saat gemparnya covid bahwa langit Jakarta menjadi sangat cerah karena polusi sangat berkurang. Namun kembali berpolusi setelah aktivitas normal. Dari sittu kita tahu bahwa apa yang kita lakukan memberikan dampak, terutama dampak buruk terhadap bumi.

Kak Gita juga menjelaskan mengenai nilai transaksi ecommerce yang mencapai 266 triliun pada 2020 Naiknya hampir 80% dari 2019 ditengah resesi ekonomi. Padahal tahun tersebut adalah tahun kelam dimana kita sedang dilanda bencana covid 19.

Namun ada tapinya. Dari besarnya transaksi tersebut, penetrasi produk lokal ternyata masih dibawah 20% di semua platform. Padahal di kategori tersebut terdapat kategori yang sesuai seperti obat herbal, kecantikan, dan fashion.

Jika kita melihat potensi yang ada di hutan seperti di Dusun Silit tadi, di sana terdapat berbagai macam produk herbal, kecantikan, bahan dasar fashion, dan sebagainya, yang tentunya bisa diciptakan produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial ketimbang membeli produk dari luar negeri yang belum tentu demikian.

Terlebih kita sudah punya pola ekonomi yang baik. Artinya jika kita jeli memanfaatkan potensi hutan dengan masksimal, hutan akan terjaga dan sekaligus memberikan benefit untuk manusia.

Penetrasi produk lokal

Kak Gita juga menjelaskan bahwasanya produk hutan itu sangat banyak dan bernilai tinggi di mata dunia berdasarkan riset yang sudah dilakukan. Misalnya seperti moringga atau kelor yang dulu sempat dipandang sebelah mata, ternyata harga market globalnya pada perkiraan 2025 saja senilai USD $10 triliun. Kemudian ada juga madu, dan tengkawang yang banyak di Kalimantan Barat yang market globalnya juga tak kalah tinggi.

Peluang industri alam dengan nilai tinggi di market global

Menurut Kak Gita setelah melihat market global yang begitu besar, jika kita berkonsentrasi pada ekspor komoditas dimana hanya menjual mentahnya saja, maka dibutuhkan lahan besar untuk memenuhi komoditas terpenuhi. Tapi, itu tidak akan membela proteksi hutan.

Namun beda lagi jika kita berkonsentrasi pada generisasi. Jadi tidak lagi rakus lahan tapi memanfaatkan yang sudah ada dan bagaimana mengolah itu sehingga valuenya lebih tinggi dengan kebutuhan lahan yang lebih kecil.

Peluang industri alam dengan nilai tinggi lainnya.

Kak Gita juga sedikit menyinggung tentang profesi dimana semua profesi juga dapat berkontribusi terhadap perlindungan hutan. Misal kita seorang influencer, maka bisa dengan membuat konten ajakan peduli alam. Atau seorang guru, maka bisa mengajarkan anak-anak tentang pentingnya perlindungan hutan, dsb.

Dan akhirnya kita masuk ke narasumber yang terakhir yaitu Mas Christian dari HII atau Hutan Itu Indonesia yang merupakan organisasi nirlaba berbadan hukum yang baru berumur 5 tahun yang fokusnya pada kampanye pelestarian hutan ke masyarakat muda perkotaan lewat pesan positif. Pada pembukaan materinya, ia memiliki pesan seperti pada gambar di bawah ini.

Hutan adalah jawaban

Ia juga menambahkan bahwa ada banyak cara agar kita mencintai hutan. Misalnya dengan bercerita tentang hutan melalui kampanye jaga hutan, cerita dari hutan, adopsi pohon, membeli produk hutan non kayu, atau jalan-jalan ke hutan.

Intinya ada banyak cara untuk melindungi hutan dan tidak harus secara langsung. Dan tentunya cara cerdas melindungi hutan yaitu dengan megkonsumsi hasil hutan. Bukan hanya komoditas pangan saja, tapi produk lain seperti kerajinan atau jasa ekowisata seperti yang pernah saya tulis di sini, bahkan yang terbaru yaitu kosmetik dari hutan pun ada.

Konsumsi-hasil-hutan

Potensi hasil hutan

Namun jika kita memang terpaksa membutuhkan hasil hutan kayu seperti karton, kardus, kertas, furniture, pastikan memiliki sertifikasi ecolabel seperti pada gambar untuk memastikan lebih baik daripada yang tidak ada.

Kemudian ada juga adopsi pohon seperti disinggung di atas, ini merupakan program donasi dan terbilang cara baru. Melalui adopsi pohon artinya kita mendonasikan sejumlah uang untuk melindungi pohon seperti kegiatan patroli hutan, guna memastikan bahwa pohon yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan yang mana berfungsi menjaga keseimbangan air dan oksigen, tetap terjaga keberadaanya paling tidak satu tahun. Bagi masyarakat sekitar hutan, ternyata mereka mau melakukannya.

Dana adopsi pohon ini selain membiayai patroli hutan juga berimbas ke peningkatan ekonomi masyarakat, membiayai pembibitan pohon, membiayai akses pendidikan dan/atau kesehatan masyarakat. Karena hutan itu juga mendatangkan banyak inspirasi. Misal seperti fashion biologi dimana style atau modelnya meniru sesuatu dari hutan.

Adopsi pohon

Kemudian ada juga peringatan hari hutan nasional. Kalau menurut Mas Tian, salah satu cara untuk mengubah kebiasaan atau perilaku itu biasanya butuh event atau momentum. Untuk yang ia lakukan sendiri yaitu earth hour dengan mematikan lampu 1 jam sehari saja dan ia sudah berhasil melakukannya. Sebenarnya itu sepele, tapi kalau dilakukan bersama-sama tentu efeknya besar. 

Karena efek panas dari lampu yang kita gunakan akan menyumbang pemanasan global. Nah, melalui event seperti hari bumi sedunia seperti yang akan dilaksanakan pada 22 April 2021 lalu akan mendatangkan kesan atau moment tersendiri yang dapat mengubah kebiasaan seseorang untuk lebih peduli hutan. 

Komposisi hutan

Akhirnya itulah sharing session mengenai pentingnya menjaga hutan agar tetap lestari. Intinya menjaga hutan itu penting dan bisa dilakukan dengan banyak hal. Tidak harus berupa ajakan. Karena dengan melakukan action seperti membeli hasil hutan non kayu, adopsi pohon, memanfaatkan jasa ekowisata, ataupun melalui aksi nyata lewat profesi kita masing-masing.

Ingat satu pesan. Menjaga bumi bukan tentang menyelamatkan bumi, tapi menyelamatkan manusia itu sendiri. Jadi kalau kita emang masih peduli dengan orang-orang tercinta kita, menyelamatkan bumi artinya menyelamatkan kita bersama. 

Bagikan biar yang lain tahu