Diatas adalah rumahku yang sedang dibangun. Dokpri

“Mir, tembok semar rumahmu bagus banget?”

“Tembok semar gimana ?”

“Itu lho yang di lor ngumah (sebelah utara rumah), miring dan melengkung gitu”

Dari percakapan itu, saya pun kaget dan segera menengok. Dan ternyata benar, tembok bagian atas rumah saya miring, mungkin ada kali, miringnya sampai 10 cm. Parah pokoknya. Dan anehnya kenapa saya baru tau.

Ya, 2018 lalu, saya membangun rumahku sendiri saat masih bujang dari tabunganku sendiri, salah satunya menabung emas. Jumlahnya memang tidak seberapa. Namun dengan tambahan tabungan saya tersebut, setelah dihitung-hitung jumlahnya menjadi cukup, sehingga orang tua bisa memutuskan untuk membangun rumah untukku.

Baca Juga : Pengalaman Menjual Emas Antam di Butik Emas Antam Yogyakarta

Kalau saya lihat, kebanyakan millenial saat ini lebih memprioritaskan lifestyle. Bahkan menurut sebuah survey pada anak muda Jakarta, untuk jatah ngopi saja, dalam sebulan bisa sampai sejuta. Ya, itu bukanlah masalah karena masing-masing orang punya cara mengekspresikan diri. Namun tentu saja harus bijak melakukannya dengan tidak berlaku hedon. Karena masa depan tentu jauh lebih penting. 

Infografis dibawah dipinjam dari moneysmart.

Pengeluaran-Keuangan-Millenial-Jakarta

 

 

Baca Juga : Millenial Sulit Beli Rumah? Yuk Intip 5 Kesalahan Pengaturan Keuangan Millenial di Usia 20an

Dalam proses pembangungan ini, saya agak menyesal belakangan. Alasannya karena ada tembok yang miring banget. Bahkan saya sering khawatir jika ada gempa. Takut roboh dan menimpa saya. Pasangan batu batanya pun kurang lurus dan ada beberapa yang melengkung. Kalau mau saya renovasi, otomatis harus merobohkan tembok dan atap. Dan saya mentaksir ini bisa mengeluarkan dana hingga puluhan juta. Duh banyak banget. 

Kusen-kusennya juga ada yang miring namun sudah diperbaiki. Namun untuk kusennya ini tidak masalah sih karena tukang proffesional yang akan merenovasi nanti sudah bisa mengakalinya. 

Nah, dari sini saya ingin berbagi tips berdasarkan pengalaman pribadi kepada kalian sebelum membangun atau merenovasi rumah. Terutama dalam hal memilih tukang. Jangan sampai menyesal belakangan karena kesalahan memilih tukang. Atau kamu hanya buang-buang biaya saja. 

Oiya, rumah saya ada di desa ya. Dusun. Jadi mungkin pengaplikasiannya bisa berbeda dengan rumah di perkotaan ataupun kota besar karena bisa jadi standarnya beda. Dan bahan material juga bisa berbeda jenisnya. Berikut tipsnya.

1. Menentukan lokasi rumah

Foto : https://www.istockphoto.com/

Sebelum membangun rumah, tentukan lokasi yang strategis tempat kamu tinggal. Pilih tempat yang menurut kamu bikin betah karena berbagai faktor. Entah itu lokasi ataupun karena lingkungan yang mendukung.

Untuk faktor lokasi, memilih lokasi dipinggir jalan besar adalah pilihan tepat karena akses lebih mudah. Kalau saya sendiri, rumah saya memang berada dipinggir jalan, jadi lebih dekat kalau mau bepergian. Kurir pun juga lebih mudah mencari alamat saya.

Berbeda dengan rumah orang tua yang ada dipelosok desa, yang seringkali membuat kurir kebingungan saat mengirimkan paket. Rumah yang dekat jalan, juga lebih potensial jika kita ingin buka usaha, misal buka warung atau hanya sekedar jualan bensin karena banyak orang lewat.

Untuk faktor lingkungan, kalau saya lihat, lokasi strategis tidak selalu menjadi pilihan. Karena kenyamanan paling utama. Saya pernah mendapati seseorang yang lebih memilih menempati rumah di pelosok karena lebih aman, ketimbang di daerah ramai yang dianggap kurang aman. Aman yang dimaksud bisa karena para warganya yang baik, atau aman dari tindak kriminal seperti pencurian.

2. Persiapkan dana

Sebelum membangun rumah, saya sudah mempersiapkan dana matang-matang. Saya juga sudah menghitung setiap minggunya akan keluar berapa banyak? Misal untuk upah tukang, biaya material, dsb. Alhamdulillah sampai rumah siap pakai, saya tak ada hutang sedikitpun.

Baca Juga : Punya Budget 400 Jutaan, Bisa Beli Rumah Seperti Apa di Medan?

3. Persiapkan denah rumah dan desain sesuai keinginan

Image by Jean-Paul Jandrain from Pixabay

Dulu sebelum membangun rumah, saya masih bingung seperti apa nantinya bangunan rumah setelah jadi. Karena saat proses pembangunan, saya masih belum banyak kesiapan. Akhirnya desain rumah dan pembagian kamar ditentukan oleh Kakak saya. Beruntunglah karena pembagian kamarnya sangat fungsional. Karena semua bagian kena, tidak ada ruangan yang kebesaran atau kekecilan. Semuanya pas. Kamar mandi dan wc pun pas dan dibuat terpisah biar bisa buat gantian saat sudah tidak tahan, yah walaupun ukurannya kecil.

Soalnya seringkali saya menjumpai sebuah rumah yang pembagian ruangnya kurang fungsional. Misal karena ruang tamunya sangat besar, sehingga hanya bisa menyisakan kamar 1 buah. Atau ruang tengahnya sangat besar, tapi ruang tamunya sangat kecil. Atau kamar mandi dan WC yang menyatu dan gak bisa buat gantian padahal udah “mucuk” wkwkwk.

Untuk kamar pribadi di rumah saya, letaknya dibelakang. Jadi pas ada tamu dan kita sedang mandi dan akan masuk kamar, tamu gak bisa ngeliat kita yang mungkin masih setengah telanjang. Aman jadinya. Jadi, denah rumah itu penting sekali dipikirkan sebelum membangun rumah.

Oiya, jika memang pembangunan belum bisa sekaligus, baiknya dicicil dulu. Misal kalau belum bisa bikin 3 kamar sekaligus, 1 aja tidak masalah, sisanya menyusul. Yang penting sudah bisa di tempati dulu. Barangkali ada yang sudah pengen buru-buru pindahan.

Kemudian jika ada bagian yang mau di dak atau dibikin lantai atas, tapi belum bisa dibangun saat itu, pondasinya harus kuat dan bikin cakar ayam. Kalau bisa pakai besi 10 atau 12 inch biar kuat.

Baca Juga : 7 Tips Menjual Rumah di Era Digital Agar Cepat Terjual

4. Persiapkan tukang dan kenek yang mahir

Image by Michal Jarmoluk from Pixabay

Nah, ini yang tak kalah penting. Sebelum membangun rumah, tukang yang nantinya akan bekerja, baiknya tukang yang sudah mahir dan pengalaman. Biasanya mereka adalah tukang yang sudah bekerja di kota sekian lamanya.

Mengapa tukang yang harus kerja di kota? Karena pengalaman mereka lebih luas dan lebih banyak menanganani bangunan rumit dan modern.

Soalnya kalau rumah di kota, kebanyakan adalah rumah dagangan yang desainnya rumit, unik, modern dan aristik. Mengenai desain dan denah rumah, mereka juga update karena memang sudah makanan sehari-hari.

Baca Juga : 6 Apartemen Di Jakarta Timur dengan Review Terbaik di Traveloka

Tapi bukan berarti tukang bangunan yang tidak pernah bekerja di kota hanya punya sedikit pengalaman. Semua itu tergantung masing-masing orangnya.

Intinya, sewa-lah tukang yang mahir dan benar-benar proffesional. Agar hasilnya sekali jadi dan bagus sekaligus. Gak ada istilah permak atau bongkar-bongkaran karena hasilnya kurang bagus atau bahkan jelek.

Bangunan itu adalah benda yang akan dipakai seumur hidup, permanen, dan biayanya mahal. Maka dari itu, sewalah tukang proffesional agar hasilnya sekali jadi dan bagus. Tentu kita tidak mungkin kan, membongkar pasangan bata yang miring, kemudian ditata lagi supaya lebih bagus. Atau merobohkan tembok yang miring dan dibangun lagi dari awal. Buang-buang duit itu namanya.

Oiya, tukang yang mahir itu juga bisa menghitung dan mentaksir seberapa banyak material yang dibutuhkan untuk sebuah bangunan. Misal bangunan 2×2 meter, maka ia bisa menghitung berapa batu bata yang harus dibeli, semen yang dibutuhkan, atau besi yang dibutuhkan.

Tetangga saya yang seorang tukang proffesional, pernah menggarap sebuah bangunan dan keramik yang dibeli hanya sisa 1 buah. Artinya, prediksi ia sangat pas. Sehingga pemilik rumah tidak membeli dalam jumlah lebih yang akan mubazir nantinya. Kalau lebihnya cuma 1 dus ( 1 dus = 200 ribu) keramik geranit sih mungkin tidak masalah. Kalau lebihnya 10 dus. 200 ribu x 10 = 2 juta.

Selain tukang, kenek atau pembantu tukang juga harus mahir. Biasanya kalau kenek tuh ya, kadang pemilik rumah suka pekerjakan orang begitu saja tanpa memikirkan apakah ia pengalaman atau tidak? Dan itu tidak dianjurkan.

Kenek yang mahir akan paham dengan cara kerja mereka melayani tukang. Kenek yang mahir juga paham mengenai takaran dan campuran adukan semen yang pas dan kuat. Tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit.

Terlalu banyak semen akan boros biaya. Kurang semen juga membuat adukan tidak kuat menempel di batu bata. Akibatnya, tembok menjadi cepat rapuh. Jadi, selain tukang yang mahir, kenek juga harus mahir agar hasil bangunan maksimal dan pekerjaan cepat selesai.

5. Persiapkan bahan dan material terbaik

Image by Hans Braxmeier from Pixabay

Sebelum membangun rumah, tentu material harus sudah dipersiapkan. Seperti batu bata, genteng, pasir, semen, besi, usuk (kaso), besi, dll. Untuk batu bata, dulu saya memilih batu bata yang pembakarannya paling bawah karena matangnya sampai gosong dan hitam. Dengan begitu ia lebih kuat dan tidak mudah patah. Namun tentunya harganya lebih mahalan ketimbang bata merah yang pada proses pembakarannya berada ditumpukkan atas.

Kalau di tempat saya di yang merupakan sentral genteng, dan juga batu bata, untuk 1000 buah batu bata, harga taksiran antara 675-750 ribuan tergantung penjual dan kualitas.

Kalau untuk gentengnya, genteng sokka doreng (genteng yang matangnya sampai hitam), harganya justru lebih murah ketimbang genteng yang matangnya kuning merata yang lebih mahal.

Bagi mereka yang tahu dan pengalaman, mereka akan memilih genteng doreng. Alasan utamanya selain karena tidak rembes saat hujan, juga karena harganya lebih murah. Sedangkan genteng yang matangnya kuning merata, biasanya dibeli orang-orang kota karena estetikanya lebih bagus saat sudah terpasang.

Dulu karena saya belum paham, saya belinya yang kuning merata, dan sekarang kalau ada hujan, rintikan air seperti kabut menembus genteng. Makannya laptop selalu saya tutup dengan plastik saat musim hujan tiba agar tak kena air.

Terus, apakah akan rembes terus? Enggak ko, lama kelamaan rapat juga dan tidak rembes.

Kemudian untuk besi, besi ukuran 8 inch sudah bagus. Namun kalau mau lebih kuat, bisa pakai ukuran 10 inch. Dulu saya beli yang 8 inch untuk 1 lenjernya (12 meter) haraganya 45 ribu. Sekarang mungkin sudah 50 ribu lebih.

Untuk pasirnya, pilih pasir yang bagus, yang kalau buat mlester tembok lebih nempel. Karena kan ada tuh pasir yang sulit nempel di tembok pas lagi plesterkan. Dan itu kudu banyakkin semennya, tapi ya’ itu, semen jadi boros. Kalau ditempat saya, 1 truk DAM pasir, dulu harganya dulu 900ribu. Sekarang mungkin sudah 1 juta lebih.

Nah, kalau untuk semen, semen tiga roda lebih tahan lama encernya ketimbang merek lain. Sehingga adukan semen lebih tahan lama saat sedang diaduk. Soalnya saya sudah pernah membuktikannya saat meng-aci dan memlester tembok dulu. Kalau untuk meng-aci, saya pilih semen tiga roda karena tahan lama encernya. Sehingga acian tidak terbakar.

Terbakar yang dimaksud yaitu proses acian gagal karena semen cepat kering, yang mengakibatkan permukaan acian tidak merata. Dan saat dicat juga akan baret-baret.

Untuk rangka atapnya, kalau misal pakai baja ringan, baiknya pakai genteng plastik buatan pabrik. Kalau pakai genteng cetakan tanah, rangka baja ringan bisa melengkung. Soalnya pernah mendapati rumah yang saat itu sedang saya kerjakan, baja ringannya melengkung karena tak kuat menahan beban berat genteng.

Baca Juga : Panduan Jual Beli Properti via 99.co Indonesia

6. Perhatikan arah rumah. Jangan sampai membelakangi atau berhadapan dengan rumah orang tua kita 

Image by Free-Photos from Pixabay

Untuk tips ini mungkin ada yang percaya ada yang tidak. Boleh ada yang percaya atau tidak.  Namun kalau di tempat saya cara ini masih berlaku. Dan mungkin ini seperti sebuah adat kali ya. 

Seorang teman pernah bercerita, bahwa ada tetangganya yang selalu sakit sakitan. Dan ternyata setelah sekian lama baru ketahuan, bahwa pintu rumahnya berhadapan dengan rumah orang tuanya. Dan setelah diubah, ia tidak lagi sakit-sakitan.

Orang tua adalah orang yang kita hormati. Jika kita membangun rumah berhadap-hapadan, maka ibarat kita menantangnya. Dan sepertinya membelakanginya juga dilarang. Jadi arah rumah kita sebagai seorang anak haruslah dengan posisi dipangku. Misal rumah orang tua menghad ke selatan, maka rumah sang anak harus menghadap ke barat.

Begitu pula jika kita membangun rumah secara berjejeran dengan dengan saudara kita, misal kakak dan adik. Untuk rumah sang Kakak, maka harus berada di depan, sedangan adik ada di belakangnya. Tidak boleh terbalik karena dapat menimbulkan kemadhorotan atau banyak hal buruk terjadi pada sang adik. Orang tua saya sih bilangnya begitu. Dan tentu saja warga lainnya pun sama. 

7. Bangun rumah secara bertahap sesuai budget

Foto : https://www.99.co

Kalau kamu ingin cepat-cepat punya rumah sendiri namun budget terbatas, baiknya bangun secara bertahap saja menyesuaikan budget yang ada. Yang penting sudah ada kamar tamu, kamar tidur, serta kamar mandi dan wc. Kamar mandi dan wc itu nomor satu karena kebutuhan ini tak bisa ditunda tunda.

Jika ingin menambah kamar tidur, bisa dilakukan nanti saja secara bertahap. Kalau di tempat saya sih begitu. Kamar tambahan bisa menyusul belakangan kerena menyesuaikan budget. Atau biasanya sih kebanyakan pada bikin pondasi dulu. Setelah dana terkumpul, baru kemudian dibangun.

Oiya, jika ada bagian yang ingin di dak namun belum bisa dikerjakan saat itu, pondasinya harus dikasih cakar ayam dulu agar kuat menopang beban.

8. Perhatikan pemasangan lokasi septictank dengan sumber air

Image by KevinDerrick  https://www.istockphoto.com

Hal ini penting agar sumber air sehari-hari seperti untuk minum tidak tercemar oleh limbah. Kecuali kalau kamu pakai air PAM. Sepengetahuan saya, jarak antara septictank dan sumber air paling tidak 10 meter. Lebih jauh lebih baik.

Baca Juga : Belajar dari Kesalahan, Ini 5 Tips Penting Sebelum Membeli Pipa Air

9. Jangan lupa selamatan

Ini mungkin berbeda di setiap tempat, juga menyesuaikan dengan adat dan kepercayaan masing-masing. Kalau di tempat saya, begitu rumah selesai di bangun, diadakan selamatan. Saya menyebutnya kendurenan. Tujuannya agar penghuni rumah betah dan selamat menjalani hidupnya di rumah tersebut.

Akhirnya,
Tentu kita tahu bahwa segala sesuatu yang direncakan dengan baik dan matang, hasilnya bisa sesuai harapan. Terlebih untuk tujuan besar, permanen, dan jangka panjang, seperti membangun rumah.

Rumah adalah tempat kita pulang dari ingar bingar dunia luar. Maka dari itu, untuk mendapatkan rumah idaman, perencanaan matang perlu dilakukan agar hasilnya sesuai harapan.