Hai teman, dulu, saya pernah merasa iri pada teman-teman yang begitu mudahnya mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah. Sementara saya, saya merasa sangat sulit sekali walau puluhan lamaran kerja, baik itu yang di kampung atau di perantauan, tak kunjung ada panggilan.

Saya masih ingat ketika berjalan sendirian di tengah kota mengenakan pakaian hitam putih sambil membawa tas berisi lamaran kerja. Dimana saat itu saya sudah 10 bulan mencari kerja tapi tak kunjung dapat. Bahkan untuk posisi cleaning service saja enggak diterima. Ngenes banget rasanya, padahal sudah keluar biaya banyak. Hati dan pikiran jadi tidak karuan. Sedih juga karena nganggur lama.

Saat mendengar teman A atau B bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji tinggi sekian juta, saya cuma pasrah saja menerima keadaan. Saya memang hanya lulus SMK saja, namun begitu peluang kerja lulusan SMK pun banyak, tapi saya belum beruntung.

Tepat semenjak tahun 2009, ini beberapa pekerjaan yang saya lakukan dengan gaji kecil. Hasilnya saya kumpulkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa membangun rumah sebelum menikah saat masih lajang dulu.

1. Menjadi kuli dengan gaji 35 per hari (2009-2011)

2009 lalu setelah 10 bulan lelah mencari kerja tak kunjung dapat, kebetulan teman abang saya sedang mencari karyawan di usaha alat dapur miliknya di Jakarta. Saya yang sedang nganggur, di tawari kerjaan tersebut tentu mau dong. Apalagi tak perlu ijazah.

Di sini saya hanya sebagai kuli kasar yang kerjanya bungkusin alat-alat dapur dan bongkar muat barang. Kadang kalau lembur mulainya jam 12 malam untuk bongkar muat barang sampai jam 02.00 dini hari. Bahkan seringkali lemburnya sambil hujan-hujanan tapi tetap saya lakonin.

foto-pas-lagi-kerja-di-suplier-alat-dapu

Foto pas lagi merantau di Jakarta dulu, tahun 2010. Dokpri. 

Gajinya tak seberapa, cuma 35 ribu per hari yang dibayar per minggu. Tapi saya senang. Upah dari kerja saya gunakan untuk ambil kursus komputer di malam harinya, plus banyak saya gunakan untuk membeli buku-buku komputer dan sebagian saya simpan. 

Namun setelah selesai kerja, saya sakit lama dan uang habis dipakai untuk berobat. Tapi saya senang karena sudah punya sedikit bekal ilmu dasar-dasar komputer dan coding yang saya pelajari secara otodidak. Saat itu mimpi saya adalah menjadi blogger dan bisa berpenghasilan dari internet. Bagiku saat itu, investasi leher ke atas sangat penting demi masa depan lebih baik. 

2. Tukang jualan mainan, sebulan cuma 800 ribu selama 3 bulan. Plus jadi waiter di rumah makan, gaji 550 ribu cuma 7 bulan (2012-2013)

Tahun 2012, saya pernah bekerja jadi pramusaji di rumah makan di daerah saya tinggal. Saat itu ijazah saya baru bisa terpakai untuk mencari kerja. Tugas atau pekerjaan saya di sini yaitu mengorder atau melayani pesanan makanan dari pengunjung rumah makan.

Selain itu, saya juga belajar membuat minuman racikan, mencuci piring, membersihkan lantai, tukang sapu halaman, hingga jaga toilet pun pernah seperti gambar di bawah. Karena banyak jenis kerjaan yang bisa saya lakukan, gaji saya pun sedikit naik ketimbang rekan lainnya.

foto-pas-kerja-di-RM-Yunani-jadi-penjaga-toilet-dan-tukang-jualan-layangan

Ini foto saya pas lagi kerja di rumah makan, dan yang sebelah kanan saat jualan mainan. Dokpri. 

Enggak banyak tentunya karena cuma 500 ribu sebulan dan naiknya sedikit. Tapi saya cuma bisa bertahan 7 bulan dan akhirnya berhenti karena suatu hal. Uang hasil kerja saya simpan di tabungan walaupun sisa sedikit.

Selepas jadi waiter, saya pernah kerja jadi kuli pabrik genteng dengan upah 15 ribu per hari. Sangat sedikit sekali pastinya, di saat teman-teman lain gajinya jutaan di perusahaan.

Job pekerjaan saya pun cukup berat karena mainnya tenaga. Karena merasa sangat sulit cari uang, saya pun menyimpannya dengan hati-hati. Waktu itu saya tabung di bank milik kecamatan yang masih manual.

Kemudian saya juga pernah jadi tukang jualan mainan, tepatnya layang-layang karena memang hobi. Namun cuma berlangsung 3 bulan karena ini barang musiman.

Produk ini saya buat sendiri dan saya titipkan di warung-warung. Hasilnya lumayan, dalam sebulan saya bisa berpenghasilan bersih dari 800 ribu hingga 1 juta. Dan hasilnya saya tabung di bank kecamatan tadi. Dari sinilah, rupiah demi rupiah saya kumpulkan hingga bisa membangun rumah saat muda.

3. Kuli proyek dengan upah 80 ribu perhari (2014-2015)

Tahun 2015, saya diajak teman untuk merantau bekerja, cuma jadi kuli saja sih. Upah per hari hanya 80 ribu. Namun karena ini pekerjaan berat yang menguras keringat, maka saya tidak bisa full kerja. Misal setelah dua atau tiga bulan saya harus istirahat dan pulang kampung untuk mengistirahatkan badan. Kadang di rumah sampai 2 minggu lalu berangkat lagi.

kerja

Foto pas lagi merantau jadi kuli di Jakarta, tahun 2015. Dokpri. 

Namun saat pekerjaan lagi jarang, saya juga menganggur. Upah segitu tentu kecil karena hidup di Ibukota kan mahal, apalagi saat saya harus mengontrak dan keluar biaya lagi. Yang paling sedih adalah saat uang saya dipinjam orang dan tak dikembalikan.

Dari pekerjaan ini, saya bisa beli laptop sendiri untuk pertama kalinya. Seneng banget rasanya bisa dapat barang impian hasil keringat sendiri. Selebihnya saya tabung lagi di bank kecamatan tadi.

tabunganku-di-bank-kecamatan

Tabungaku di Bank Kecamatan. 10 ribu pun ditabung. Dokpri.

4. Menjadi blogger lepas (2016-2018)

Karena saya ingin ada perubahan hidup, saya pun berani ambil risiko walaupun sangat berat waktu itu. Yaitu dengan banting stir menjadi full time blogger, dari kerjaan saya yang seorang kuli di perantauan.

full-time-blogger

Foto tahun 2016 saat masih baru-barunya jadi fulll time blogger. Di samping adalah piala penghargaan dari menang lomba. Dokpri. 

Keputusan ini saya ambil agar kualitas hidupku lebih baik, sekaligus karena saya yakin bahwa menulis bisa menghidupiku nanti. Di 3 bulan pertama jadi full time blogger, saya hidup dari uang tabungan. Ngenes dan bergejolak banget rasa hati ini karena cuan tak kunjung datang.

Hingga akhirnya untuk pertama kalinya, di akhir 3 bulan tersebut, saya dapat gaji pertamaku dari blog dengan mengikuti lomba blog. Enggak besar tentunya, hanya 650 ribu dari hasil jual hape sebagai hadiah menang lombanya. Tapi saya seneng banget karena itu pertanda kerja kerasku mulai membuahkan hasil.

 smartphone-windows

Smartphone yang saya dapat dari menang lomba setelah mantap memutuskan jadi full time blogger. Dokpri. 

Di lomba-lomba selanjutnya, saya kembali menang lagi. Hadiahnya gak melulu uang, tapi berupa barang atau voucher belanja yang saya jual dan hasilnya ditabung. Untuk beberapa barang seperti laptop atau hape, saya pakai sendiri karena memang bermanfaat.

Karena semakin terlihat hasilnya, saya pun semakin semangat bekerja. Menulis siang dan malam, dan kadang sampai pagi. Dan kemenangan demi kemenangan pun saya dapat.

Hadiah yang dalam bentuk barang, ada saya jual dan uangnya ditabung. Di tahun 2016, total pendapatan saya berkisar 27 juta rupiah. Jika dibagi 12 bulan ketemu 2,25jt.

Tapi itu termasuk sedikit karena jam kerja saya rata-rata 14 jam dari pagi hingga malam. Ibaratnya jika orang lain kerja sehari, maka saya dua hari. Aliasnya jika dihitung, gaji saya cuma Rp 1,125.000,- per bulan dan itu pun tidak semua dalam bentuk uang. Belum lagi dipotong untuk bayar internet dan kebutuhan lainnya.

Gaji segitu tentu kecil banget dibanding teman-teman lain yang sudah jadi pegawai tetap dengan gaji berlipat-lipat dari saya. Dan bekerja siang malam itu rasanya capek banget. Suer, capek dan lelah banget.

Berlanjut di tahun 2017, penghasilan agak menurun karena ada sedikit kendala tekhnis. Di tambah biaya pemeliharan blog yang tak sedikit, hasilnya masih sedikit. Tapi karena waktu itu masih sama orang tua, jadi beban saya masih ringan.

Dan di tahun 2018 mulai agak stabil dan masih dengan jam kerja yang sama. Tapi tetap saja masih kecil. Kalau enggak pinter atur keuangan, bisa-bisa saya cuma capek doang. Dari sini bisa disimpulkan kalau gaji saya memang kecil, bahkan cukup kecil.
Tapi biarpun kecil, saya cukup pandai mengatur keuangan. 

Eh betewe saya jadi curhat ya, laughing

Selain menabung, sebagian besar juga saya gunakan untuk investasi emas. Waktu itu saya masih memilih investasi emas perhiasan dan belum kenal model investasi seperti zaman sekarang. Setiap kali gajian, sebagian saya tabung, dan sebagian besarnya sekitar 80% saya belikan emas.

Motivasi saya investasi emas yaitu agar uang tidak habis terpakai, dan juga nilainya akan bertambah jika terus disimpan karena harga jual emas terus naik. Nah, saat saya akan bangun rumah di pertengahan tahun 2018, sebagian perhiasan saya jual dan sebagian lagi saya simpan untuk bekal mas kawin. Geser gambar ke kanan.

Slide pertama, investasi emas selama beberapa tahun saya jual untuk bangun rumah. Hasilnya ada di slide dua. Dokpri.

Hasil jual emas saya pakai untuk belanja bahan bangunan seperti batu bata, semen, pasir, bayar tukang, dan sebagainya. Seneng banget bisa bangun rumah saat muda. Sehingga saat menikah, saya sudah bisa menempati rumah sendiri. Punya rumah sendiri itu menyenangkan karena lebih bebas dan lebih privasi.

Proses pembangunannya memakan waktu 40 harian karena begitu pondasi dibangun, langsung dipasang bata hingga selesai. Dan saya tentu saja ikut bekerja, capek banget seperti mau pingsan setelah berpuluh-puluh hari kerja terus enggak ada liburnya. Ini fotonya, geser gambar ke kanan. 

Ini foto rumah saya, dan foto saya pas lagi ikut kerja tahun 2018 lalu. Dokpri. 

Nah, saat menikah, saya pun pakai uang sendiri hasil investasi dan menabung tadi. Untuk mas kawinnya juga sudah saya siapkan sehingga orang tua hanya nambahin sedikit.

Ya, saya memang suka menabung dan investasi. Karena hidup itu tentang masa depan. Saya enggak mau ngikutin gaya hidup karena akan menguras biaya, pastinya. 

Menurut saya, kenyataan pahit di masa depan bisa diredam kalau kita punya uang. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, iya enggak? Saat kita sedang merasa kacau karena ekonomi atau hal lainnya, tapi jika kita punya dana darurat atau  simpanan dalam bentuk investasi, tentu beban pikiran akan berkurang, betul enggak?

Nah, untuk memiliki rumah, kalian bisa melakukannya dengan cara menabung dan investasi seperti yang saya lakukan. Karena tentunya ada banyak manfaat dari keduanya. Berikut penjelasannya dalam infografis. Geser gambar ya atau klik kanan open in new tab.

Dari cerita saya di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa gaji rendah bukan alasan untuk memiliki rumah saat muda walaupun hanya tinggal di kampung. Karena dengan investasi atau menabung disertai niat yang kuat, bukan hal mustahil jika memiliki rumah impian saat muda pun bisa terwujud.

Nah, untuk tahu banyak seputar investasi, kalian juga mengunjungi instagram @ inveseries, karena di sini kita akan banyak tahu tips-tips seputar investasi dan keuangan.

Oh ya, memiliki rumah juga bisa dilakukan dengan cara refinancing KPR. Apa itu refinancing PR?

Refinancing KPR (Kredit Pemilikan Rumah) adalah pengajuan permintaan kredit untuk rumah yang masih dalam proses KPR. Proses pengajuan ini dapat diarahkan pada bank yang saat itu sedang menangani proses KPR, ataupun ke bank yang lain.

Refinancing atau istilahnya pembayaran kembali ini, cocok untuk Anda yang saat ini punya cicilan rumah, tapi terkendala karena gaji rendah atau hal lainnya. Salah satu perusahaan yang menangani Refinancing KPR adalah SMF atau PT. Sarana Multigriya Finansial (Persero) dengan akun instagramnya di @ ptsmfpersero.

SMF adalah perusahaan pembiayaan sekunder yang pada pelaksanannya berada di bawah pengawasan menteri keuangan, dimana salah satu produknya yaitu menawarkan fasilitasi likuditas berbentuk pinjaman yang nantinya akan disalurkan ke lembaga penyalur Kredit Pemilikan Rumah dengan cara membiayai kembali atau merefinancing portofolio KPR, yang sudah dimiliki penyalur oleh KPR.

PT-Sarana-Multigriya-Finansial-Persero

Refinancing ini biasanya diajukan karena beberapa alasan, misal karena kesulitan membayar cicilan, butuh dana segar dalam jumlah banyak, atau karena tertarik dengan KPR yang ada di bank lain karena menawarkan fasilitas yang lebih banyak. Untuk tahu lebih banyak tentang SMF ini, kalian bisa mengunjungi websitenya di https://www.smf-indonesia.co.id/

Memiliki rumah adalah dambaan setiap orang, tak terkecuali anak muda millenial saat ini. Ada anggapan bahwa millenial sulit membeli rumah, namun itu tidak sepenuhnya benar. Semua tergantung pribadi masing-masing. Saya yang hanya freelancer dengan gaji rendah pun bisa, maka mereka yang punya pekerjaan bergengsi bergaji tinggi, tentu harus bisa dong, semua tergantung niat.

Jika kita pandai mengatur keuangan seperti rajin menabung dan investasi, maka memiliki rumah sebelum menikah saat muda pun bukan hal mustahil.

Kalau saya pribadi, prinsipnya yaitu dengan tidak mengikuti tren gaya hidup zaman sekarang. Misal karena saya tidak suka hal-hal yang berbau konsumtif dan menuruti keinginan seperti nongkrong-nongkrong, update gadget atau fashion terbaru, hunting kuliner, nonton, dan sebagainya. Sesekali boleh, tapi kalau kalau dijadikan gaya hidup, tentu akan menguras penghasilan.

Saya lebih mending uangnya ditabung dan di investasikan saja karena masa depan ada di depan mata. Dengan begitu, keinginan untuk memiliki rumah sebelum menikah pun bisa tercapai walau dengan gaji kecil dan hanya tinggal di kampung. Jika saya bisa, kalian pun bisa. Yok bisa yok.

Bagikan biar yang lain tahu
%d blogger menyukai ini: