Dulu saat saya masih bekerja sebagai kuli proyek di sebuah perumahan, saya pernah mendapati sebuah rumah yang lantai dua-nya ngembal-ngembal alias mental-mental. Hal itu dikarenakan ketebalan lantai dak-dakan sangat tipis. Kalau tidak salah cuma 11 cm sementara normalnya 12-14 cm.

Jadi kalau diinjak dia mental gitu dan itu ngeri banget seperti mau ambruk saja. Ini penting mengingat ada banyak perabotan berat seperti meja atau almari yang akan ditaruh nantinya. Jika tidak kuat menopang atau misal ada gempa, dia bisa ambruk dan mencelakai penghuninya. Bersama ini saya ingin berbagi tips memilih perumahan agar benar-benar sesuai kriteria kita.

Baca Juga : Belajar dari Penyesalan, Ini 9 Tips yang Harus Kamu Baca sebelum Membangun Rumah

1. Perhatikan kualitas bangunan dengan survei langsung ke lokasi

Sebelum memutuskan membeli rumah di perumahan, sebaiknya cek langsung kondisi bangunan atau proyek yang akan atau sedang dikerjakan dengan datang ke lokasi. Di situ kita mencari tahu banyak hal semisal material bangunan yang dipakai.

Batu bata itu lebih baik ketimbang batako karena batako itu berlubang tengahnya. Selain itu batu bata juga lebih baik ketimbang hebel.

Hebel yang bentuknya besar memang lebih cepat saat proses bangun rumah. Namun tekstur hebel itu lebih rapuh ketimbang batu bata yang keras karena dibakar.

Hebel, cara perekatannya dengan lem. Sementara batu bata dengan adukan semen yang lebih kuat. Saat tumpukan batu bata diplester, ia semakin merekat erat membentuk tembok yang kuat dan kokoh. Jadi batu bata itu lebih kuat ketimbang hebel atau batako.

Untuk rangka atap, jika pakai baja ringan maka sebaiknya pakai genteng plastik karena lebih ringan.

Dulu pas kerja pernah kejadian, rangka atap baja ringan melengkung karena tak kuat menahan beratnya genteng cor yang lumayan berat. Ngeri banget seperti mau ambruk.

Sebaliknya, jika rangka atap pakai kaso atau kuda-kuda kayu, baru pakai genteng cor karena lebih kuat. Lagian kalau pakai kuda-kuda kayu membuat ruangan lebih adem. Semisal ada kabel nempel di kayu juga lebih aman ketimbang baja ringan yang bisa nyetrum.

Saat proses membangun ini tentu membutuhkan tukang. Kalau bisa sewa-lah tukang profesional. Jangan sampai karena kurangnya skill atau tukangnya kurang pinter, kejadian seperti rangka atap melengkung atau tembok rumah doyong seperti yang terjadi di rumah saya dialami oleh Anda.

2. Perhatikan kebutuhan keluarga

Sebelum membeli rumah, musywarahkan terlebih dahulu mengenai kebutuhannya. Misal karena ada dua orang anak yang sudah besar, maka bisa pilih rumah dengan dua kamar. Atau jika punya mobil, pilih yang ada garasinya.

Kemudian pikirkan juga mengenai renovasi apa yang akan dilakukan di masa depan. Misal akan menambahkan kamar di bagian belakang atau yang lainnya. Untuk hal ini bisa memilih jenis rumah yang memiliki area kosong. Misal yang ada taman di belakang rumah atau depan rumah.

3. Cek keamanan lokasi perumahan

Banjir di perkotaan seperti daerah Jabodetabek itu seperti sudah biasa. Bahkan beberapa bulan lalu banjir juga terjadi di banyak kota di Indonesia yang dulunya belum pernah banjir jadi kena banjir. Bahkan sampai ke luar pulau seperti Banjarmasin contohnya.

Jadi, memilih perumahan yang lokasinya bagus dan agak tinggi dan bebas banjir itu hal wajib. Selain itu lingkungan juga harus aman dari pencurian, tawuran, dsb.
Dulu pernah saat tinggal di perumahan pas kerja, malamnya banyak anak-anak yang teriak-teriak seperti tawuran. Ngeri pokoknya dan enggak berani keluar.

Oiya, selain itu hindari juga memilih lokasi dekat sutet atau tiang listrik karena hawanya tidak enak. Katanya kalau kita tinggal dekat sutet, hawanya kayak gimana gitu enggak enak di badan. Sinyal handphone juga agak sulit. Soalnya kakak ipar saya juga gitu.

Cari tahu juga kalau bangunan berdiri di tanah yang aman. Jangan sampai dibangun di atas tanah bekas tempat apa gitu yang bikin penghuninya merasa tak nyaman.

4. Cek kebersihan lingkungannya

Kebersihan lingkungan itu sangat penting, terlebih untuk sumber air karena air sangat vital bagi kehidupan. Air yang kotor dan tercemar akan mengganggu kesehatan.

Mengetahui letak septic tank dengan sumber air seperti sumur ini penting. Jarak antar keduanya yang terlalu dekat akan mencemari sumber air.

Kalau sepengalaman saya sih, sumber air berada jauh dari lokasi septic tank. Dan septic tank dibangun di depan rumah. Tapi tentunya sistem drainase setiap perumahan bisa berbeda-beda. Jadi penting untuk diketahui.

Kemudian cek juga mengenai lokasi pembuangan sampah atau limbah. Tempat pembuangan yang terlalu dekat dapat menimbulkan bau tak sedap dan mencemari sumber air juga.

5. Cek fasilitas umum pendukung

Umumnya perumahan berdiri dekat dengan berbagai fasilitas umum seperti pasar, mall, rumah sakit, dsb, yang akan mendukung aktivitas penghuni rumah. Bagi yang suka olahraga, keberadaan jogging track juga penting guna mendukung kebugaran.

Jade Park Serpong 2 adalah kompleks perumahan minimalis dengan konsep rumah tapak, yang memiliki desain asri dan ramah lingkungan namun dengan harga terjangkau.

Pemilihan lokasinya pun cerdas karena dekat dengan fasilitas umum. Seperti Stasiun Serpong (1 km), SPBU (1 km), ATM Center (1 km), Tol BSD (1 km), Eka Hospital (500 m), RS Hermina (500 m), ITI (500 m), Taman Jajan BSD (2 km), AEON Mall (4 km), dan Bandara Soekarno Hatta (35 km).

Ada beberapa type yang bisa kalian pilih. Seperti Topaz, Emerld, Rubby, Sapphire, Diamond, Opal, Onix, dan Zirkon. Kompleks perumahan yang dioptimalkan dengan keindahan lingkungan alam ini memiliki banyak area hijau yang segar dan bebas polusi.

Penghuni akan merasa di sebuah oase yang eksklusif dan tersembunyi di tengah kota. Namun begitu, ia juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern yang hanya beberapa langkah saja dari depan pintu rumah.

Hidup di zaman sekarang harus cerdas. Termasuk dalam memilih kompleks perumahan. Jangan asal harga murah, namun pertimbangkan banyak hal mengingat harga sebuah unit rumah tidaklah sedikit.