Hai kawan, kalian pernah berlibur ke Pulau Weh? Itu lho Pulau yang sangat indah di Provinsi Aceh sana dengan air lautnya jernih dan bersih?

Atau kalian pernah ke Pulau Alor di NTT sana yang pesonanya tak kalah menarik?

Atau mungkin kalian pernah berlibur ke Pulau terluar yang sangat indah, namun sayangnya fasilitas yang mendukung perkembangan pariwisatanya kurang.

Tahukan kalian kalau di Indonesia masih banyak sekali destinasi wisata seindah surga yang lokasinya berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Dan pastinya sangat menarik untuk dikunjungi karena umumnya sumber daya alamnya masih sangat alami dan terjaga kelestariannya.

Namun apa daya karena terletak di daerah 3T, fasilitas dan SDM-nya pun tergolong kurang sehingga butuh campur tangan pihak luar agar dapat terus berkembang. Oleh karenanya, potensi yang ada pun menjadi kurang maksimal.

Dayamaya adalah sebuah program yang membantu para startup, komunitas, kelompok masyarakat, dan UMKM digital, untuk berkontribusi dan bersinergi membangun potensi ekonomi digital di daerah 3T tersebut. Lihat video di bawah ini. 

Nantinya para kontributor atau inovator terpilih, bertugas dan bertanggung jawab untuk meningkatkan skill dan SDM di daerah 3T dengan memberikan pelatihan kepada para pelaku usaha di berbagai sektor. Contohnya seperti bidang pariwisata. Karena sektor pariwisata dinilai paling cepat mendatangkan pendapatan.

Nah, dari 18 inisiatif yang terdaftar di dayaman, 3 di antaranya telah memberikan kontribusi pada daerah 3T, yaitu Atuorin, Cakap, dan Jahitin.

Atourin dengan websitenya di https://atourin.com/id adalah perusahaan jasa pariwisata yang menyediakan jasa baik online ataupun offline, telah berkesempatan memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada sejumlah tour guide atau pemandu wisata di daerah Natuna melalui program dayamaya.

Baca Juga : Serasa di Hutan Amazon! Ini 7 Hal Menarik yang bisa Dilakukan di Hutan Mangrove PIK Jakarta

Menurut Reza Permadi sebagai tim operasional Atourin, pada 2019 lalu, sudah ada 10 tour guide di Natuna yang sudah berlisensi dan sudah berani melakukan branding diri dengan memanfaatkan media sosial. Tentu ini merupakan kabar baik karena peran tekhnologi informasi sangat besar terhadap perkembangan pariwisata. Terutama untuk wisata di daerah 3T.

Selain pemahaman tentang tekhnologi, pemahaman tentang bahaasa terutama bahasa asing seperti Bahasa Inggris juga sangat penting untuk perkembangan pariwasata berkelanjutan. Dengan kemampuan bahasa asing, wisatawan mancanegara pun akan tertarik untuk berkunjung dan akan termudahkan dalam hal komunikasi.

Menjawab persoalan tersebut, Cakap sebagai platform pembelajaran bahasa asing terutama bahasa Inggris, juga telah berkontribusi terhadap perkembangan wisata daerah 3T dalam hal penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Namun selain bahasa Inggris, di cakap.com juga ada plihan bahasa lain seperti bahasa Mandarin, Jepang, dan Indonesia.

Dalam kontribusinya, Cakap sendiri pada 2019 lalu juga telah menyelenggarakan digital assessment di Kabupaten Kabupaten Sumba Timur dan Sabu Raijua, NTT, menggunakan standarisasi CEFR (The Common European Framework of Reference for Languages).

Program ini telah melibatkan sebanyak 250 partisipan setingkat pelajar SMA, yang dilakukan dalam sebuah kelas digital online dan di isi langsung oleh guru bahasa Inggris asing (ESL Teacher).

Dari program ini, sudah ada beberapa daerah yang mendaftar. Seperti dari Kalsel, Maluku Utara, Sulawesi Utara serta Kepulauan Bangka Belitung. Untuk daerah terbanyak yaitu dari Kalimantan Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung.

Menurut Tommy, nantinya peserta akan mengikuti kelas webinar, materi bejalar dalam format ebook, akses video untuk pembelajaran, dan kuis untuk mengasah kemampuan bahasa para peserta, kemudian pendampingan yang dilakukan oleh guru proffesional dan lokal fasilitator, dan juga sertifikat di akhir masa pembelajaran.

Untuk Jahitin, sesuai dengan namanya, ini adalah sebuah inisiatif yang memang berhubungan dengan dunia menjahit. Jahitin Academy melalui Program Dayamaya telah berkontribusi meningkatkan skill dan kemampuan SDM di daerah Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dalam hal menjahit pakaian.

Melalui workshop pemanfaatan limbah kain tenun, Jahitin Academy mengajarkan bagaimana membuat kain tenun menjadi produk ekonomis dan bernilai jual. Contohnya seperti membuat cushion pillow.

Bukan hanya itu, Jahitin Academy juga telah mempermudah para penjahit agar dapat dengan mudah mengakses pasar. Wujud nyatanya, mereka kini sudah terhubung dan mendapatkan akses langsung dengan dinas perdagangan. Hasilnya, para penjahit dari Jahitin Academy di Sumba telah berhasil mendapatkan pesanan 5000 masker.

Akhirnya, berkat peran dari para inisiatif atau pemilik startup, banyak daerah 3T mulai menunjukkan progress ke arah yang lebih baik. Dan tentunya sebagai negara kepulauan yang mana ekonomi masih berpusat di titik-titik tertentu saja, tentu saja kontribusi pihak luar yang berkompeten begitu berpengaruh untuk perkembangan ekonomi di daerah 3T agar dapat maju bersama.

Karena tentu penghidupan yang lebih baik tidak hanya bisa dilakukan di kota besar, namun daerah tertinggal pun memiliki potensi yang sama, dengan memanfaatkan tekhnologi informasi berupa internet.