Gubernur Bank Indoenesia Perry Warjiyo dalam peluncuran QR Standar. Dok. bi.go.id

#UsahaLancarPakaiQRStandar

Di kutip dari republika[1] dan money-kompas[2] seorang pedagang cilor (aci telor) bernama Cokro yang berjualan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, mengatakan, bahwa dirinya telah membuktikan manfaat dari QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard sebagai alat pembayaran.

Pasalnya setelah ia menerima pembayaran dengan QRIS ini, jualannya bisa menghabiskan telur yang tadinya 2 kg naik menjadi 3 kg. Dan omsetnya pun meningkat dari 300 ribu menjadi 400-500 ribu perharinya hanya dalam 2 bulan.

Ia juga mengatakan bahwa pembeli bertambah semenjak ia menggunakan QRIS. Bukan hanya saat mereka tidak membawa uang cash, namun orang-orang jadi tertarik membeli saat mendapati gerobaknya tertempel kode QR karena di anggap unik ataupun penasaran.

Cokro, pedagang cilor yang menerima pembayaran dengan QRIS. Foto : Republika

Dengan QRIS, jajajan seharga seribuan miliknya bisa dibayar menggunakan berbagai platform dompet digital. Seperti Go-Pay, OVO, LinkAja, DANA, dan sebagainya. Karena omsetnya meningkat, Cokro pun mengajak 7 teman lainnya untuk menggunakan QRIS.

Sebelum menggunakannya, awalnya ia memang mengaku kesulitan dan bingung saat mengetahui tidak menerima uang cash karena pembeli membayarnya dengan dompet digital. Namun lambat laun ia mulai paham bahwasanya ada potensi peningkatan setelah menggunakan kode QRIS ini.

“Ternyata gampang, yang penting ada handphone. Saya tertarik dan coba. Alhamdulillah pendapatan nambah,” ujarnya.

Baca juga : Berbagi Pengalaman Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Lain Cokro, lain pula untuk pedagang bakso bernama Edi Purwanto (34 tahun). Bakso yang dijual seharga 10 ribu per mangkok ini, sebelumnya hanya bisa habis sekitar 70 porsi dalam sehari. Namun semenjak menggunakan QRIS, kini ia bisa menjual hingga 100 porsi perhari.

Ia mengatakan bahwa pembayaran lewat QRIS ini memudahkannya saat tak ada kembalian. Karena tinggal scan barcode saja, maka pembayaran berhasil. Terlebih karena ia berdagang di area perkantoran. Dan menurutnya belum ada kendala berarti selama ia menggunakan kode QRIS ini. Yang menjadi kendala hanyalah sinyal saja.

Lain Cokro dan Edi, lain pula dengan Yoggie, pemilik warung kelontong yang mengaku mendapatkan manfaat QRIS dalam bertransaksi. Dalam sehari, ada sekitar 10 orang yang bertransaksi non tunai di warungnya. Dia merasa perputaran uang melalui QRIS ini lebih cepat, sehingga dapat digunakan lagi untuk modal warung.

Walaupun pendapatannya masih sekitar 250 ribu perhari, namun ia menilai bahwa QRIS ini dapat meningkatkan potensi penjualan di warungnya. Pasalnya banyak pembeli yang tak jadi beli karena tak ada kembalian.

Menurut VP Online to Offline Bukalapak, Rahmat Danu Andika, mengatakan, bahwa pihaknya sudah bekerjasama dengan Bank Indonesia dan telah menjaring 1000 UMKM untuk menggunakan QRIS. Mereka itu seperti pemilik warung, penjual pempek, tukang tambal ban, tukang cilor, dan UMKM lainnya yang saat ini belum terjamah transaksi digital. Dan hingga saat ini, Bukalapak telah memiliki 2 juta UMKM yang tersebar di seluruh Indonesia. Dan pihaknya akan terus mendorong semua UMKM tersebut untuk menggunakan QRIS.

Ia juga mengatakan bahwa QRIS ini bisa meningkatkan omset mitranya. Dan hasil penjualan bisa di uangkan atau disimpan menjadi saldo Bukalapak dan dapat digunakan untuk membeli kebutuhan lainnya.

Kepala Manajemen Proyek Strategi Nasional Keuangan Inklusi, Djauhari Sitorus, juga berpendapat, bahwa QRIS ini cukup cepat, aman, mudah dan murah. Pihaknya juga mendorong kepada para penyedia jasa QRIS untuk membantu meningkatkan penggunaan QR code ini.

Nah, dari cerita di atas menjadi bukti bahwa dengan QRIS, UMKM dan pedagang kecil seperti Cokro pun merasakan dampaknya karena omset jualannya melonjak. Begitupun dengan Edi Purwanto dan juga Yoggie.

————–

Untuk diketahui bersama, bahwasanya sekarang QR Code yang tadinya berbeda-beda saat akan melakukan pembayaran, sudah diseragamkan menjadi satu kode, yaitu QRIS atau Quick Response Indonesian Standard.

Misal nih ya, jika sebelumnya kita hanya bisa belanja pakai Go-Pay di minimarket A dan harus scanning QR Code milik Go-Pay, maka mulai 1 Januari 2020 besok, hanya ada satu QR Code yaitu QRIS disetiap merchant atau toko, yang dapat menerima pembayaran dari berbagai platform dompet digital, seperti Go-Pay, OVO, LinkAja, DANA, dsb. Jika di ibaratkan, QRIS ini sama seperti ATM bersama yang mengcover banyak bank dalam satu ATM.

QR Code Standar yang diseragamkan. Ilustrasi oleh Amir Mahmud

Dengan begitu, para pembeli walaupun berbeda platform dompet digitalnya, tetap bisa melakukan pembayaran. Dan untuk UMKM, diharapkan dapat beradaptasi karena ini peluang emas.

Dan kabar baiknya karena pengguna dompet digital ini jumlahnya sangat banyak di Indonesia. Menurut data yang di himpun oleh Bank Indonesia[3] saat ini ada 38 dompet digital yang resmi terdaftar olehnya. Dan pada tahun 2018 kemarin, transaksi menggunakan dompet digital ini mencapai 1.5 milliar dollar. Dan diprediksikan akan meningkat hingga 25 milliar dollar pada tahun 2023.

Sedangkan menurut sumbernya di iprice[4] pada kuartal ke-2 tahun 2019, ada 5 besar aplikasi dompet digital lokal berdasarkan pengguna aktif bulanan, yaitu Go-Pay, OVO, DANA, LinkAja, dan Jenius.

Kemudian untuk aplikasi dengan jumlah download terbesar, 5 besar aplikasi lokal pun masih mengungguli. Secara berurutan, Go-Pay berada di urutan pertama, OVO berada di posisi kedua, DANA diposisi ketiga, LinkAja berada di urutan keempat, dan iSaku di urutan kelima.

Untuk dompet digital terfavorit baik pengguna aktif bulanan ataupun jumlah download, menurut data yang dihimpun oleh medium[5] 30% total transaksi elektronik berasal dari Go-Pay. Dan pada bulan Februari 2019 kemarin saja, transaksi di Go-Pay menyentuh angka 6.3 milliar dollar dengan 70%-nya didapat dari Go-Jek melalui Go-Pay sebagai alat pembayarannya.

Nah, dari sedikit data di atas saja, membuktikan bahwa potensi transaksi elektronik kedepan akan semakin meningkat seiring waktu berjalan. Terlebih karena di masa depan nanti, Indonesia akan mengalami bonus demografi dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak ketimbang usia non produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 64 tahun).

Karenanya, ini adalah peluang emas yang bisa nikmati oleh pedagang, UMKM, pengusaha atau para merchant dari penggunaan QR Standard ini dibanding QR code sebelumnya.

Dan selain menghemat uang kertas, meminimalisir peredaran uang palsu, mempermudah saat tak ada kembalian, meminimalisir tindak kriminal, serta mendukung GNNT atau Gerakan Nasional Non Tunai, berikut 3 manfaat dari kode QR Standard.

Pertama, mengcover transaksi seluruh dompet digital hanya dengan satu kode QRIS

Seperti yang sudah dibuktikan oleh para pedagang diatas, bahwasanya QR Standard ini lebih inklusif karena dapat mencover berbagai macam platform dompet digital.

Konsumen dari berbagai platform dompet digital seperti Go-Pay, OVO, LinkAja, DANA, dan lainnya, dapat dengan mudah bertransaksi dengan hanya satu QR Code yaitu QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard.

Dan tentunya seperti kita ketahui bersama, dengan QR Code ini, berarti tidak perlu membawa uang cash atau menyediakan kembalian. Karena nominal yang sudah discan, nilainya pas dengan harga suatu produk atau jasa yang dibeli konsumen.

Kedua, bisa untuk transaksi di luar negeri. QRIS ini bersifat universal dan sudah memenuhi standar internasional EMVCo, sehingga dapat digunakan untuk transaksi pembayaran baik domestik ataupun luar negeri. Untuk saat ini, standar tersebut sudah mendukung beberapa Negara, seperti India, Thailand, Singapura, Malaysia, Korea Selatan. Sehingga penggunaan QRIS ini juga diharapkan berpengaruh pada industry pariwisata di Indonesia. Sumber cermati[6]

Ketiga, transaksi bersifat langsung. Artinya begitu kode discan, maka dana akan berpindah ke pihak merchant. Sehingga mendukung kelancaran sytem pembayaran karena cepat.

Keempat, bertransaksi jadi lebih mudah dan aman hanya dengan satu smartphone di tangan. Saat tidak membawa dompet atau tidak ada uang kembalian, jadi tidak jadi masalah.

Nah, dengan empat keunggulannya, tentu akan memudahkan UMKM dalam mengembangkan usahanya dalam berbagai bidang. Hingga dampaknya akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Indonesia dari berbagai bidang.

Kesimpulannya, dengan jumlah pengguna dompet digital yang terus meningkat serta bonus demografi yang akan hadir di masa depan, potensi meningkatnya level UMKM pun menjadi semakin besar. Terlebih karena konsep QR Code yang menyeragamkan barcode dari berbagai macam dompet digital menjadi satu sticker, akan memudahkan konsumen saat akan melakukan pembayaran dari berbagai macam platform dompet digital.

Jadi, sudah siapkah para pelaku hadapi lonjakan omset di 2020 nanti ?

Sumber referensi artikel :
1. Republika : https://republika.co.id/berita/pwsddl383/cerita-tukang-cilor-dan-bakso-layani-pembeli-dengan-qr-code
2. Money.kompas : https://money.kompas.com/read/2019/08/21/170800526/cerita-ukm-pakai-qris-dari-menolak-hingga-rasakan-manfaat?page=all
3. Bank Indonesia : https://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/informasi-perizinan/uang-elektronik/penyelenggara-berizin/Pages/default.aspx
4. Iprice : https://iprice.co.id/trend/insights/e-wallet-terbaik-di-indonesia/
5. Medium : https://medium.com/life-at-go-jek/shaping-the-future-of-payment-with-gojek-f6552a3c828
6. Cermati : https://www.cermati.com/artikel/1-januari-2020-bayar-nontunai-wajib-pakai-qris-apa-itu
Share This