Halo guys, pernah nggak sih kamu membayangkan kalau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata punya hubungan dengan makanan yang kita konsumsi sehari-hari?

Selama ini, ketika mendengar kabar kebakaran hutan, mungkin yang terlintas di pikiran kita adalah asap tebal, udara tercemar, dan hewan-hewan yang kehilangan tempat tinggal.

Bahkan baru baru ini di Sumatera, kebakaran hutan sampe membakar rumah warga, kalau gak salah sampai ada 400 rumah hangus, duh kasian banget ya.

Padahal, dampaknya bisa lebih luas dari itu. Kerusakan lahan gambut juga berkaitan dengan perubahan iklim, keanekaragaman hayati, hingga ketersediaan sumber pangan masyarakat.

Dalam diskusi bersama Pantau Gambut, dibahas bagaimana pengeringan lahan gambut dapat meningkatkan risiko kebakaran. Sementara itu, dalam pembahasan Ahmad Arif dari Kompas, muncul satu gagasan menarik: Indonesia sebenarnya memiliki banyak sumber pangan selain beras dan terigu.

Dari sini, kita bisa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan hutan. Kita juga perlu mengenal kembali kekayaan pangan lokal yang berpotensi mendukung ketahanan pangan tanpa harus mengorbankan ekosistem.

Gambut dan Risiko Karhutla: Kenapa Bisa Mudah Terbakar?

Gambut merupakan lapisan tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan, seperti akar dan daun, yang mengalami pelapukan secara tidak sempurna dalam kondisi basah. Karena mengandung banyak bahan organik, gambut mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Dalam kondisi alami, gambut umumnya basah sehingga lebih sulit terbakar. Masalah muncul ketika lahan gambut dikeringkan, misalnya untuk membuka lahan perkebunan atau pertanian.

Dalam diskusi Pantau Gambut dijelaskan bahwa pembukaan lahan sering disertai pembangunan kanal untuk mengalirkan air. Tujuannya agar lahan lebih kering dan bisa ditanami tanaman seperti kelapa sawit yang membutuhkan kondisi lahan berbeda dari ekosistem gambut alami.

Namun, pengeringan berlebihan membuat gambut kehilangan kelembapannya dan menjadi lebih rentan terbakar.

Bayangkan gambut seperti spons yang bisa menyimpan air. Ketika kondisinya masih basah, gambut membantu menjaga ketersediaan air. Akan tetapi, setelah mengalami pengeringan dan kerusakan berulang kali, kemampuannya menyimpan air dapat menurun. 

Baca Juga : 8 Cara Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan Saat Musim Kemarau

Akibatnya, saat musim kemarau tiba, kebakaran lebih mudah terjadi. Bahkan, api bisa merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.

Dalam catatan diskusi tersebut, panjang kanal di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 280.000 kilometer. Kalau dibayangkan, panjangnya setara dengan perjalanan bolak-balik melalui ruas Tol Trans-Jawa dari Banten hingga Jawa Timur berkali-kali lipat. Banyak banget, ya!

Pengeringan gambut juga bisa memicu persoalan lain. Ketika musim hujan datang, wilayah yang mengalami kerusakan tata air dapat menghadapi risiko banjir.

Jadi, persoalan gambut bukan hanya tentang kebakaran saat kemarau, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan mengatur air sepanjang tahun.

kerentanan-gambut

El Nino Bukan Satu-satunya Penyebab, namun pendukung terjadinya kebakaran hutan

Kita sering menghubungkan karhutla dengan El Nino yang dapat menyebabkan kondisi lebih kering di sejumlah wilayah. Memang, fenomena ini bisa meningkatkan risiko kebakaran. Namun, El Nino bukan satu-satunya penyebab.

Kondisi gambut yang sudah kering, pembukaan lahan dengan cara membakar, dan aktivitas manusia lainnya turut memengaruhi risiko karhutla.

Karena itu, pencegahan kebakaran tidak cukup hanya menunggu musim hujan atau berharap kondisi cuaca membaik. Pengelolaan air dan pemulihan gambut yang rusak juga menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko kebakaran.

elnino

Dampak Kerusakan Gambut terhadap Ekosistem

Kerusakan gambut tidak berhenti pada kebakaran. Ada berbagai dampak lain yang bisa memengaruhi lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Pertama, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika terbakar, karbon yang tersimpan di dalamnya dilepaskan ke atmosfer, terutama dalam bentuk karbon dioksida. Gas rumah kaca ini berkontribusi terhadap pemanasan global.

Kedua, pengeringan lahan dapat mengubah kondisi kimia tanah. Pada tanah yang mengandung mineral pirit, paparan oksigen akibat pengeringan dapat memicu oksidasi dan menghasilkan asam sulfat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan keasaman tanah dan air di sekitarnya.

Jika air yang bersifat sangat asam mengalir ke sungai, kualitas air bisa menurun dan kehidupan organisme perairan, termasuk ikan, dapat terganggu.

Ketiga, kebakaran berulang bisa merusak habitat berbagai tumbuhan dan hewan. Ketika tumbuhan mati atau sumber makanan berkurang, hewan yang bergantung pada ekosistem tersebut ikut terdampak.

Inilah pentingnya biodiversitas atau keanekaragaman hayati. Setiap tumbuhan, hewan, dan organisme memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Ketika habitatnya rusak, bukan hanya satu jenis makhluk hidup yang terancam, melainkan juga hubungan antarmakhluk hidup di dalamnya.

keanekaragaman-hayati

Hubungan Biodiversitas dan Pangan

Biodiversitas adalah keberagaman makhluk hidup, mulai dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme, hingga ekosistem tempat mereka tinggal.

Lalu, apa hubungannya dengan pangan?

Coba perhatikan makanan sehari-hari. Banyak dari kita terbiasa mengonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat utama. Ada juga yang mengandalkan roti, mi, atau makanan berbahan tepung terigu.

Padahal, Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal, seperti sagu, singkong, ubi jalar, talas, jagung, dan sukun.

Keberagaman sumber pangan ini penting untuk mendukung ketahanan pangan. Jika kita hanya bergantung pada sedikit jenis tanaman, gangguan produksi akibat cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, atau serangan hama bisa berdampak besar terhadap ketersediaan makanan.

Sebaliknya, semakin beragam pilihan pangan yang kita kenal dan manfaatkan secara berkelanjutan, semakin banyak alternatif yang bisa dikembangkan sesuai kondisi lingkungan.

Namun, menjaga biodiversitas pangan tidak cukup hanya dengan mengenal jenis makanannya. Kita juga perlu melindungi ekosistem tempat tanaman tersebut tumbuh.

Indonesia Punya Banyak Sumber Pangan Selain Beras

Dalam pembahasan Ahmad Arif dari Kompas, sagu menjadi salah satu contoh pangan lokal yang menarik untuk diperhatikan.

Sagu bukan hanya dikenal di Papua. Tanaman ini juga memiliki sejarah pemanfaatan di sejumlah wilayah lain di Indonesia, termasuk beberapa kawasan di Sumatra.

Sagu merupakan sumber karbohidrat yang dapat tumbuh di lingkungan tropis yang basah, termasuk kawasan gambut tertentu yang sesuai.

Artinya, pada lokasi yang tepat, sagu dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan tanpa harus mengeringkan seluruh kawasan gambut untuk mengubahnya menjadi lahan pertanian kering.

Hal ini penting karena tidak semua tanaman cocok ditanam di semua jenis lahan. Memaksakan tanaman yang membutuhkan kondisi berbeda dari lingkungan aslinya bisa memerlukan perubahan tata air yang berisiko merusak ekosistem.

Dalam sejarah Indonesia, proyek pembukaan lahan gambut untuk pertanian, termasuk proyek pada akhir 1990-an di Kalimantan Tengah, menjadi pengingat bahwa mengubah ekosistem alami menjadi lahan produksi tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Karena itu, pengembangan pangan perlu mempertimbangkan karakteristik lingkungan dan pengetahuan masyarakat setempat.

Bukan berarti kita harus meninggalkan beras. Beras tetap menjadi sumber pangan penting bagi masyarakat Indonesia. Namun, kita juga perlu memberi ruang bagi sumber pangan lokal lain agar kebutuhan pangan tidak bergantung pada satu komoditas saja.

Eksplorasi Tumbuhan Lokal: Sagu, Singkong, dan Ubi Jalar

Mengenal biodiversitas pangan sebenarnya bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Kita tidak harus pergi jauh ke hutan untuk menemukan contoh kekayaan pangan Indonesia.

Sagu

Sagu memiliki sejarah panjang sebagai sumber pangan tradisional, terutama bagi masyarakat di wilayah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Tanaman ini dapat diolah menjadi berbagai makanan, seperti papeda, sagu lempeng, dan aneka kudapan.

Selain menjadi sumber karbohidrat, sagu juga berkaitan dengan budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.

Mempertahankan pemanfaatan sagu secara berkelanjutan berarti turut menjaga tradisi pangan sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan sumber pangan yang sesuai dengan lingkungan setempat.

Singkong

Singkong termasuk tanaman pangan yang akrab bagi masyarakat Indonesia. Umbinya bisa diolah menjadi singkong rebus, singkong goreng, getuk, tiwul, dan berbagai makanan lainnya.

ketela-ubi-jalar

Singkong juga dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat. Meski demikian, pertumbuhannya tetap dipengaruhi kondisi tanah, iklim, varietas, dan cara budidaya.

Singkong ini walaupun musim kemarau tetap tahan, buktinya saya nanam di pekarangan saat ini saja masih tumbuh dan hijau, kuat banget ini mah singkong.

Ubi Jalar

Selain singkong, ubi jalar atau ketela juga mudah ditemukan di berbagai daerah. Warnanya beragam, mulai dari putih, kuning, jingga, hingga ungu.

Ubi jalar bisa direbus, dikukus, dipanggang, atau diolah menjadi aneka makanan tradisional. Bahan pangan ini bisa menjadi pilihan untuk memperkaya menu keluarga dan mudah juga ditanam, Tinggal ditancapkan ranting yang masih ada akarnya, ubi atau ketela ini bisa tumbuh.

Tentu saja, diversifikasi pangan bukan berarti kita harus berhenti makan nasi. Kita hanya perlu membuka pikiran bahwa ada banyak sumber karbohidrat lain yang bisa dikonsumsi sesuai kebutuhan dan ketersediaannya.

Singkong-Rebus-di-Atas-Daun-Pisang

Biodiversitas Pangan di Tengah Perubahan Iklim

Perubahan iklim menjadi tantangan bagi pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan pola hujan, peningkatan suhu, kekeringan, dan banjir dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman serta hasil panen.

Di sinilah keberagaman pangan lokal menjadi penting. Setiap tanaman memiliki karakteristik berbeda. Ada yang cocok tumbuh di lingkungan basah, ada yang membutuhkan drainase baik, dan ada pula yang mampu menghadapi kondisi kering tertentu.

Karena itu, pengembangan pangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan, bukan sekadar memaksakan satu jenis tanaman untuk semua wilayah.

Pada kawasan gambut yang sesuai, misalnya, sagu dapat menjadi salah satu pilihan sumber pangan. Sementara itu, perlindungan gambut tetap diperlukan untuk menjaga cadangan karbon, tata air, dan habitat berbagai makhluk hidup.

Kita perlu melihat produksi pangan dan perlindungan lingkungan sebagai dua hal yang bisa berjalan bersama.

Jika lahan gambut terus dikeringkan dan terbakar, dampaknya bisa memperburuk perubahan iklim. Sebaliknya, pemanfaatan tanaman lokal yang sesuai dengan kondisi ekosistem berpotensi membantu masyarakat mengembangkan sumber pangan tanpa selalu mengubah lingkungan secara besar-besaran.

Cerita Personal: Pangan Lokal Ada di Sekitar Kita

Kalau dipikir-pikir, mengenal biodiversitas pangan bisa dimulai dari hal sederhana.

Di lingkungan tempat tinggal saya, singkong dan ubi jalar termasuk bahan makanan yang mudah ditemukan. Keduanya bisa direbus atau diolah menjadi makanan yang mengenyangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, singkong dan ubi rebus hanya dianggap sebagai camilan tradisional. Namun, dari sudut pandang ketahanan pangan, keduanya merupakan contoh bahwa sumber karbohidrat tidak harus selalu berasal dari beras.

Kita bisa mulai mengenal pangan lokal dengan bertanya kepada orang tua tentang makanan yang dahulu sering mereka konsumsi, mengunjungi pasar tradisional, atau mencoba mengolah bahan pangan yang ditanam petani setempat.

Dari sana, kita tidak hanya mengenal makanan, tetapi juga belajar tentang budaya, pengetahuan masyarakat, dan hubungan manusia dengan alam.

Tentu saja, jika menemukan tumbuhan liar yang belum dikenal, kita harus memastikan identitas dan keamanannya sebelum dikonsumsi.

Pada akhirnya, menjaga biodiversitas pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, peneliti, atau petani. Kita sebagai konsumen juga bisa berkontribusi melalui pilihan makanan dan dukungan terhadap pangan lokal yang diproduksi secara bertanggung jawab.

Kesimpulan

Kerusakan gambut mengajarkan kita bahwa persoalan lingkungan memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Gambut yang dikeringkan dan terbakar tidak hanya melepaskan karbon ke atmosfer, tetapi juga dapat mengganggu tata air, merusak habitat, dan mengancam keanekaragaman hayati.

Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang patut dikenali kembali. Sagu, singkong, ubi jalar, dan berbagai tanaman lainnya dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan sumber pangan masyarakat.

Menjaga gambut dan mengembangkan pangan lokal bukanlah dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya bisa saling mendukung jika kita memahami karakter lingkungan dan memanfaatkan sumber daya secara bijak.

Kita tidak harus langsung mengganti nasi dengan sagu atau singkong sepenuhnya. Namun, kita bisa mulai dengan mengenal dan mencoba pangan lokal yang tersedia di sekitar kita.

Sebab, menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan hutan dari kebakaran. Kita juga sedang menjaga sumber pangan, budaya, dan kehidupan masyarakat untuk masa depan.