Foto : www.alodokter.com

Sekitar satu bulan yang lalu, saya berkunjung ke rumah sakit di daerah saya tinggal untuk memeriksakan telinga kiri istri yang bermasalah. Jadi, dulu pas istri masih kecil, pernah sakit telinga hingga bunyi nging-nging gitu. Dan rasanya lebih sakit dulu ketimbang sekarang.

Dulu kalau mau keluar cairannya, rasanya sakit dan senut-senut. Tapi kalau ndak keluar, rasanya weg-weg gitu kayak gangsing yang lagi muter. Pokoknya tidak karuan deh rasanya. Badan juga gak enak dan kepala juga pusing. Cairan di telinga sendiri warnanya bening dan lama-lama menjadi keruh seperti ingus dan bau amis.

Dulu gak diobatin sih. Cuma kadang oleh Bapak cuma dikasih balsem doang karena selalu nangis pas mau tidur. Oiya, seringkali telinga juga di kliteni (di korek-korek pakai bulu ayam) saja. Buat yang hidup di desa mungkin pernah ngalamin.

Nah, saat memerikasakan di rumah sakit, kata dokternya sih, kalau pada anak-anak, itu memang hal umum dan sering terjadi, namun sembuh dengan sendirinya. Itu karena usia anak-anak masih dalam masa pertumbuhan dan gendang telinga bisa menutup sendiri.

Baca Juga : Hidung Tersumbat Disertai Darah Keluar dari Hidung? Awas Itu Kanker Nasofaring

Nah, setelah dewasa, sakit telinga dialami istri saya kembali. Awalnya gara-gara gatal dan di korek-korek pakai cotton bud. Entah habis berapa banyak cotton bud di rumah.

Pernah suatu kali saat memakai cotton bud yang telah dipakainya untuk membersihkan telinga kirinya, ia pakai lagi untuk yang kanan dan malah ikutan gatal. Tapi untunglah karena gak ikutan gatal. Jadi kudu hati-hati ya buat kalian yang mengalami hal yang sama. Kapas cotton bud sebaiknya sekali pakai dan langsung buang.

Karena mengoreknya terlalu dalam, akhirnya malah tambah gatal dan malah keluar cairan. Setelah dikorek-korek keseringan, lama-lama telinga malah bedengung, keluar cairan, dan kepala jadi pusing.

Pas masih awal-awalnya sakit, cairan masih berwarna bening. Gejalanya seperti saat masih anak-anak dulu. Tapi dibiarkan aja sih karena dikiranya sembuh sendiri. Eh ternyata tidak.

Dan setelah sebulan lebih, cairan malah jadi kental seperti ingus. Pendengaran jadi berkurang. Menangkap suara jadi kurang terdengar gitu. Dan cairan juga berubah menjadi kekuningan dan baunya amis.

Setelahnya, kami pergi ke puskesmas karena untuk berobat. Saat itu lagi musim corona. Sebelum masuk, suhu tubuh di tes dan karena normal, kami pun dipersilahkan masuk.

Kemudian oleh dokternya diperiksa dan dikasih obat. Tapi tak dikasih obat tetesnya sih. Padahal Ibu mertua saya yang memiliki keluhan sama dan berobat ke puskesmas, dikasih obat tetes dan sembuh. Ternyata beda tempat beda obat ya.

Setelah obat habis, ternyata belum sembuh karena gejala masih terasa. Ya udah deh kami ke dokter THT di rumah sakit. Di sana istri saya diperiksa oleh dokter spesialis THT yang memang ahlinya. Setelah mendaftar dan cek tensi darah, antrian kami pun tiba. Telinga di sedot cairannya menggunakan alat endoscopi. Semacam selang tipis yang ujungnya ada kamera dan lampunya dan dihubungkan dengan layar monitor. Eh tapi waktu itu entah terpasang kamera atau tidak karena saya tidak ikut masuk ruang periksa. Intinya diambil cairannya yang sudah kental. Rasanya kayak ditiup “sret sret sret” gitu.

Baca Juga : Mengapa Penang Jadi Pilihan Tempat Berobat?

Dokter bilang ini sudah infeksi dan emang harus ditangani ahlinya yaitu dokter THT. Setelah diambil cairannya, rasa nyumbat ditelinga jadi berkurang. Kata dokternya sih belum parah. Cuma karena udah lama dan cairan sudah berubah warna, jadi harus cepet-cepat ditangani.

Setelah cairan disedot dengan endoscopi, oleh dokter dikasih obat tetes gitu dan diresepkan obat. Seperti antibiotik, pereda nyeri, dan juga obat penghilang gatal, dan tentu saja obat tetesnya.

Obat tetesnya dipakai jika cairan seperti mau keluar atau masih keluar. Jika tidak ya tidak. Dan selama pengobatan itu, telinga tidak boleh kemasukan air agar tak kambuh.

Nah, beberapa hari kemudian, kondisi telinga membaik. Tapi didalamnya seperti masih kerasa sedikit nyumpel. Kemudian kami kontrol lagi ke RS karena memang dianjurkan oleh dokternya. Soalnya ini penanganannya beda karena sudah pernah mengalaminya sewaktu kecil. Kata dokter, resiko terparah dari sakit telinga yaitu bisa menjalar ke otak dan bisa sampai operasi.

Baca Juga : ‎Apa Saja Keuntungan Menjadi Peserta BPJS Kesehatan ?

Dan setelah kunjungan kedua alias terakhir, dokter bilang kalau sakit telinga dinyatakan sembuh. Alhamdulillah. Dan obat yang diresepkan juga cuma satu macam. Sementara obat tetes dipakai jika keluhan kembali terasa. Dan jika belum juga berhenti, dokter menganjurkan untuk kontrol kembali.

Sekarang telingi istri saya sudah sembuh.

Oiya, saya juga sempat bertanya. Jika misal ada orang dengan keluhan yang sama, tapi mengkonsumsi obat serupa dengan yang istri saya minum yang dibeli sendiri di toko obat atau apotik, apakah bisa? Karena kalau saya lihat, banyak orang membawa bungkus resep obat ke apotik diapotik.

Mendengar jawabannya saya kurang paham sih. Tapi kalau tidak salah, tidak boleh sih. Soalnya kondisi medis seseorang beda-beda sih. Misal apakah dia punya riwayat sakit tertentu sehingga obatnya cocok, atau tensi darah yang tinggi bisa juga berefek.

Nah, itulah cerita saya periksa endoscopi telinga di dokter THT. Kalau kalian punya keluhan yang sama, segera periksakan ya. Soalnya keluhan pendengaran itu hubungannya dengan sosial. Kalau orang dipanggil tapi gak juga denger, refleknya kan jadi kesel.

Semoga bermanfaat ya. Terima kasih.