Iqbal, petani milenial binaan PT. Pupuk Kaltim. Foto : demfarm.id

Jika bicara bertani, melihat kenyataan zaman now saat ini, banyak anak muda yang enggan bercita-cita menjadi petani. Alasannya tentu saja karena bertani identik dengan kemiskinan, pengasilan minim, kotor-kotoran, rendahnya pendidikan, dan asumsi negatif lainnya.

Anak muda zama sekarang cenderung lebih memilih impian bergengsi seperti CEO popular, trader saham, youtuber, influencer, dan sebagainya. Bukan menjadi petani.

Bahkan yang anak petani pun, mulai dari anaknya sendiri sampai orang tuanya seringkali tidak menganjurkannya jadi petani. Padahal potensi pertanian sangat besar di Negara zamrud khatulistiwa ini.

Petani zaman dahulu dengan sekarang tentu saja beda. Jika petani generasi orang tua kita lebih condong ke kerja keras, maka petani milenial lebih condong ke riset dan persiapan dengan berbagai ilmu sebelum memulai, agar hasilnya lebih maksimal.

Dengan kata lain, petani milenial lebih condong ke kerja cerdas sehingga hasilnya lebih maksimal tanpa terlalu memeras keringat. Mereka lebih suka bekerja berdasarkan data dan riset ketimbang main “trabas” saja.

Saya punya seorang tetangga, beliau masih muda seumuran saya, sebut saja Havid. Dulunya ia adalah seorang wirausaha. Ia memiliki warung dan usaha WiFi atau voucher internet. Ia sendiri adalah seorang generasi sandwich yang harus menghidupi keluarga dan orang tua tunggalnya.

Namun karena semakin kesini pengguna internet sudah semakin banyak dan banyak dari warganya sudah pasang sendiri, saya lihat usahanya kian menurun. Tower sebesar sutet yang ia pasang senilai puluhan juta saat ini sudah tidak dipakai lagi.

Sejak saat itu ia mencoba membuka usaha dengan bertanam hidroponik. Tanaman yang ia tanam yaitu daun selada, pokcoy, kangkung, kembang kol, dan beberapa yang lainnya.

Kebun-Selada-Tani-Hidroponik

Tanaman selada yang ditanam secara hidroponik milik Mas Havid. Foto : Havid 

Kalau saya lihat, setiap panennya seperti tidak ada atau bahkan jarang sekali gagal. Padahal sebelumnya, saya tidak pernah tahu apakah ia punya pengalaman bertani hidroponik atau tidak. Dan sepertinya belum. Dan saya pikir ia belajar dari internet.

Dan sepertinya banyak orang terbelalak dengan apa yang ia lakukan. Dari bertani ini, ia berhasil memutus stigma negatif tentang bertani bahwa petani itu identik dengan kalangan bawah dengan baju kotornya dan berpenghasilan rendah dan hidup miskin.

Setiap dua minggu sekali ia panen, ujarnya saat saya menanyakan. Untuk target pasarnya, ia memasarkannya ke café-café dan restoran yang ada di kota saya. Dan saya lihat usahanya cukup lancar tanpa berkubang tanah atau lumpur. Bahkan jika perlu, memakai sepatu atau dasi layakya orang kantoran pun tidak akan mengotorinya.

Ya, petani milenial adalah petani yang melek tekhnologi yang lebih senang bekerja dengan system ketimbang tenaga. Mereka bisa mengintegrasikan teknologi dengan pertanian sehingga hasilnya lebih maksimal seperti pertanian di Negara-negara maju

Petani milenial memang lebih maju karena yang ia lakukan penuh dengan riset dan persiapan. Makannya, peranan petani milenial sangat penting bagi masa depan. Mengenai hal tersebut, berikut ini adalah 4 perubahan besar yang akan terjadi jika petani milenial mendominasi di masa depan.

1. Semakin banyaknya inovasi tekhnologi pertanian yang memudahkan masyarakat dalam bertani

spraying-sugar-cane-for-smart-farming-technology

Tekhnologi pertanian seperti ini akan jauh memudahkan proses pertanian untuk hasil yang maksimal dan jauh lebih bagus. Foto: https://pixabay.com/photos/spraying-sugar-cane-sugar-cane-2746350/

Saat ini model pertanian konvensional masih terpaku versi konvensional karena kebanyakan petani adalah generasi orang tua kita. Seperti misalnya masih menggunakan cangkul atau traktor saat pengolahan tanah.

Saat panen pun, kebanyakan petani masih manual. Seperti penggunaan mesin rontok padi. Atau gebugan, semacam alat dari kayu untuk merontokkan padi dengan cara memukul-mukulkan gulungan padi ke alat tersebut.

Tentu saja ini sangat tertinggal jika kita melihat tekhnologi pertanian di luar negeri dimana banyak menggunakan tekhnologi untuk pertanian. Mulai dari pengolahan tanah sampai proses pemanenan.

Jika di Indonesia, proses panen masih manual menggunakan tangan yang memakan waktu sangat lama, maka di luar negeri sudah banyak menggunakan mesin sehingga bisa jauh lebih cepat tanpa berkotor-kotoran.

Untuk proses pemanenan pun, saya pernah melihat saat penyemprotan padi di Jepang dengan menggunakan helikopter kecil yang dikendalikan dengan remot. Tentu saja ini sangat memudahkan dan prosesnya sangat cepat. Sedangkan di Indonesia masih menggunakan tangan alias masih manual.

Alat pertanian canggih seperti ini tentu saja sangat familiar sekali dengan anak muda karena memang millennial sangat erat kaitannya dengan tekhnologi.

Melalui tekhnologi pertanian, seseorang juga mengetahui jenis dan kondisi tanah yang baik seperti apa, sehingga bisa disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanami nantinya.

Ilmu pertanian di perkuliahan juga mempelajari bagaimana memasarkan suatu produk dengan tepat melalui tekhnologi informasi, sehingga akan lebih cepat laku terjual. Dengan tekhnologi pertanian seperti ini, tentu hasilnya lebih besar, namun lebih hemat dari berbagai sisi.

2. Petani milenial berpotensi besar mensejahterakan masyarakat sekitar

Saat ini saja ada banyak petani milenial sukses yang mampu mensejahterakan masyarakat sekitar. Misal seperti Meybi Agensia Lomanledo, petani kelor dari NTT yang berhasil mengubah kelor jadi produk bernilai tinggi.

Dari harga kelor yang tadinya harga 5 ribu per ikat, jadi 30ribu per ikat melalui produk coklat dan teh-nya. Oleh karenanya, ia pun berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.

Selain itu, saya juga pernah membaca artikel tentang seorang anak muda lulusan pertanian yang berhasil membuat sebuah produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis, padahal dari sesuatu yang merugikan berupa hama tanaman.

Jadi, sang anak muda berhasil mengubah hama tanaman yaitu keong atau siput yang merupakan hama tanaman padi. Keong ini akan memakan batang padi yang baru ditanam dan cukup merugikan petani.

Namun oleh sang pemuda yang kalau tidak salah bernama Ahmad, diubah menjadi keripik yang benilai jual. Dari situ, banyak warga yang kemudian mencari hama padi ini untuk dijual ke Ahmad dan diubah menjadi produk bernilai ekonomis, disamping membasmi hama tanaman.

Kalau tidak salah, setiap satu karung dihargai 50 ribu. Tentu ini ekonomis sekali dan sangat membantu masyarakat.

Selain kisah di atas, tentu saja saat ini banyak petani millennial lain yang berhasil meraup keuntungan besar dari bertani dan justru dapat membuka lapangan pekerjaan. Karena model petani zaman sekarang lebih condong tekhnologi untuk melakukan riset, agar hasil pertanian makin melimpah dan berkualitas.

3. Mampu memaksimalkan potensi pertanian yang ada

Kebun tomat petani modern dengan memanfaatkan lahan sempit.

Kebun tomat petani modern dengan memanfaatkan lahan sempit. Foto : https://pixabay.com/photos/tomatoes-vegetables-vegetable-936520/

Millenial adalah generasi yang kritis dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ilmu pertanian yang dipelajari baik secara otodidak melalui tekhnologi informasi ataupun saat dibangku kuliah, membuatnya bisa memahami suatu permasalahan pertanian  dengan lebih baik. Sehingga bisa tahu dimana “sela-nya” untuk kemudian dicarikan solusinya.

Misalnya seperti tanaman seperti cerita mas Ahmad di atas. Atau mas Rahmat tetangga saya yang menjadi wirausaha desa berkat pertanian hidroponiknya yang produknya bisa menembus café-café dan restoran. Padahal hanya menggunakan lahan sempit.

Seorang petani milenial dengan ilmu pertanahan atau ilmu hama yang didapat saat kuliah, atau yang tidak sekolah dan hanya belajar lewat internet, bisa memahami bagaiamana kondisi suatu tanah atau kadar airnya.

Sehingga  bisa tahu apa tanaman apa yang cocok untuk kondisi tanah tersebut. Hal tentu yang mungkin tidak dilakukan oleh petani konvensional generasi orang tua kita yang masih jauh dengan tekhnologi. 

Salah satu contohnya adalah Mas Iqbal yang akan hadir dalam webinar yang akan dijelaskan di bawah. Iqbal adalah petani milenial yang dalam satu tahun bisa 4 kali panen dengan masa tanam 60 hari.

Saat ini, kelompok tani yang dikelolan Mas Iqbal berjumlah 100 orang. Bukankah ini membuktikan kalau petani millenial tidak seperti petani zaman dahulu dan dapat memutuskan stigma negatif bertani? 

4. Lebih mampu menjaga ketahanan pangan

hamparan-sawah

Ketahanan pangan Indonesia ada di tangan milenial. Dokpri

Indonesia adalah zamrud kathulistiwa. Negara dengan sumber daya alam yang kaya dan subur. Kalau dalam liriknya koes ploes “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” merupakan cerminan dari betapa suburnya Negara kita ini, terutama dengan hasil padinya.

Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa beras di Indonesia selalu impor? Dan saya berpikir jika salah satunya penyebabnya adalah gagal panen. Ya, di tempat saya sendiri, seringkali mengalami gagal panen.

Dan salah satu penyebabnya adalah serangan hama seperti walang sangit atau hama wereng yang dalam beberapa hari saja, padi bisa ludes habis. Dan itu pernah terjadi ditempat saya. Dan di sini peran petani millennial sangat penting perannnya guna menemukan inovasi baru terkait masalah tersebut.

Di ilmu pertanian dalam perkuliahan, juga mempelajari ilmu pengendalian hama yang tentu saja sangat bermanfaat untuk menghasilkan solusi seperti jenis pupuk yang cocok, atau cara lainnya.

Nah….

Bicara mengenai petani milenial, pada 28 November yang bertepatan dengan hari nenaman pohon nasional, saya juga berkesempatan untuk hadir dalam webinar dan yang diadakan oleh demfarm.id dengan tema

“Cerita Petani Millenial Mendapat Berkah dari Kebun”

Yang dihadiri oleh lebih dari 80 peserta dari berbagai kalangan. Seperti blogger, jurnalis, masyarakat umum di wilayah Indonesia. Untuk narasumber sendiri yaitu dari praktisi berkompeten dalam bidang pertanian seperti :

1. Andrian R.D Putera yang merupakan Project Manager Program Makmur Pupuk Kaltim
2. Mas Iqbal yang merupakan Perwakilan Petani Milenial Binaan Pupuk Kaltim dari Jember, Jawa Timur
3. Soraya Cassandra selaku Founder dari Kebun Kumara

Proses-Menanam-Tanaman-Saat-Webinar-Petani-Milenial

Sebelum webinar dimulai, Kak Khairunnisa selaku hostnya, mengajak kita semua untuk bersam-sama menanam pohon dengan menggunakan pot kecil yang kita dapat dari demfarm.id. Ini kita lakukan untuk merayakan hari November yang jatuh di hari tersebut.

Proses-Menanam-Tanaman-Saat-Webinar-Petani-Milenial

Dari webinar yang menghadirkan banyak peserta yang kebanyakan suka bertanam ini, ada banyak masukkan yang bisa didapat. Dalam webinar ini, Bapak Adrian Putera dari PT. Pupuk Kalimantan Timur memaparkan tentang program yang mendukung pertanian millennial melalui program makmur.

Program ini nantinnya akan menjadi solusi petani millennial agar mereka bisa bekerja dengan cara-cara baru yang lebih inovatif dan meninggalkan cara-cara lama, sehingga potensi penghasilannya lebih besar.

Karena sejatinya pertanian yang dilakukan oleh generasi terdahulu belum atau masih sedikit menerapkan cara inovatif atau smart farming, sehingga hasilnya tidak atau belum maksimal.

Misalnya ditempat saya sendiri, dulu pernah ada traktor inovatif buatan anak muda yang dikendalikan oleh remote, sehingga tak perlu kotor-kotoran dalam dan berpeluh keringat. Namun karena ada pihak yang tidak terima karena pastinya enggan tersentuh tekhnologi, mesin traktor tersebut dicuri dan akhirnya kembali ke manual.

Pemaparan-Pak-Ardian-Putera-saat-Webinar-Petani-Milenial

Nah, implementasi dari program makmur ini juga terbukti meningkatkan produktivitas petani dengan peningkatan komoditas jagung sebesar 42% dan padi 34%. Dari keuntungan petani pun juga mengalami peningkatan. Untuk petani jagung sebesar 52% dan petani padi sebesar 41%.

“Jadi program makmur ini berlaku untuk semua petani, termasuk petani millenial. Harapan kami akan semakin banyak petani muda yang memajukan pertanian di daerah masing-masing sehingga cita-cita ketahanan pangan nasional bisa kita tercapai. Sektor ini butuh tenaga millennial,” katanya.

Dan, salah satu petani millennial yang mendapat dukungan dari program makmur ini yaitu Mas Iqbal, seorang sarjana pertanian dari Jember, Jawa Timur, yang saat ini berprofesi sebagai petani. Dan menjadi narasumber di webinar ini.

Mas Iqbal mengatakan jika keputusannya menjadi petani adalah untuk memutuskan stigma buruk masyarakat tentang profesi petani. Menurutnya, menjadi petani itu selain harus ulet dan tekun, juga harus ada regenerasi.

Apalagi di zaman modern ini turut mendukung peluang besar bagi petani milenial dan mengambil ceruk pasar yang sangat besar yang bisa dilakukan oleh petani millenial lewat inovasi dan dan cara-cara baru yang kekinian.

Mas Iqbal juga mengatakan bahwa bertani butuh modal ilmu. Seperti strategi pasar dan mengimplementasi tekhnologi pertanian. Sehingga pekerjaan bertani bukan hanya menjadi pekerjaan berat semata.

Beliau juga menambahkan bahwa menjadi petani itu harus tau pasarnya dan memiliki strategi dari awal. Jika kita sudah paham dengan tekhnologi pertanian, peluang untuk sukses pun lebih besar. Dan itulah yang mendasarinya untuk memutuskan menjadi petani millenial.

Nah, untuk narasumber berikutnya yaitu founder Kebun Kumara, Kak Soraya Cassandra, juga menyampaikan paparan senada. Ia mengatakan bahwa menjadi petani milenial bisa dilakukan dari rumah sendiri guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia juga menambahkan jika Kebun Kumara yang ia buat juga untuk mengajak lebih banyak anak milenial untuk gemar berkebun dari rumah dan membiasakan diri melakukan kebaikan, baik untuk diri sendiri atau bumi tempat tinggal kita.

Mengenai tips berkebun, ia juga memberikan tips berkebun agar tanaman kita terhindar dari hewan-hewan liar yang dapat mengganggu tanaman. Seperti serangga atau burung, yaitu dengan menanam tanaman pengalih. Seperti tanaman basil, pohon kemangi, atau tanaman wangi-wangian lainnya.

Tentang Demfarm.id

Demfram adalah portal informasi yang berisikan artikel-artikel seputar tips pertanian, tips bercocok tanam, seputar petani milenial, hinggga kisah sukses menjadi petani, bahkan hingga cerita artis yang berprofesi sebagai petani milenial. Di sini juga terdapat artikel tentang cerita Mas Iqbal yang menjadi petani milenial.

Demfarm sendiri berasal dari semangat positif berkelanjutan untuk mendukung pertanian Indonesia lewat konten yang mendidik dan informatif mengenai pertanian, pupuk, dan info pangan.

————————————
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi petani milenial sungguh teramat berbeda dengan petani konvensional yang masih menggunakan cara-cara lama. Petani milenial mengadopsi teknologi dan cara-cara terbaru untuk mendapatkan hasil akhir yang maksimal.

Identiknya petani dengan stigma negative seperti diatas saya tuliskan adalah karena penggunaan cara-cara lama dan enggan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sehingga hasilnya monoton dan kurang berkembang seperti Negara-negara maju.

Dan melalui webinar ini, kita bisa tahu bahwa menjadi petani milenial memiliki potensi besar untuk mendapatkan profit melimpah dan dapat menjadi pekerjaan bergengsi layaknya orang-orang kantoran, serta dapat menjaga ketahanan pangan melaui cara-cara baru yang inovatif dengan memanfaatkan tekhnologi pertanian. Karena di zamrud khatulistiwa ini, “tongkat kayu dan batu bisa diubah jadi tanaman”.

Bagikan biar yang lain tahu