Sebenernya saya merasa pilu saat menuliskan ini. Mengingat sakit asam lambung masih saya rasakan. Terlebih lagi karena saat itu dibarengi sakit gigi. Semua orang tahu bahwa sakit gigi itu berjuta rasanya. Sakitnya sangat mendominasi hingga mengalahkan rasa sakit lainnya. Bahkan sakit hati – mungkin.

Namun di sini saya hanya berbagi pengalaman saja. Barangkali tulisan ini bermanfaat. Tapi semoga saja tidak ada yang mengalami hal seperti saya. Dan kalau misal kalian lagi sakit (semoga jangan), baiknya jangan dibarengi sakit gigi. Karena jadi bingung ngerasainnya, juga pengobatannya. Makannya jaga kesehatan gigi dong ya. Caranya dengan rajin gosok gigi dan cek rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali. Dan jangan sepelekan gigi berlubang walau hanya setitik. Karena itu awal dari masalah yang bisa jadi lebih serius.

Baca juga : Gigi Berlubang – Baiknya Ditambal atau Dicabut ?

Nah, beberapa waktu lalu saya mengalami sakit gigi geraham belakang karena berlubang yang kemudian saya tambal. Namun karena sepertinya tambalannya rusak, hingga timbullah rasa sakit. Karena sakit, saya sampai berobat bolak balik ke dokter gigi. Agak khawatir dikit sih karena saat ini lagi pandemi. Dokter gigi hampir semuanya tutup. Tapi masih ada beberapa yang buka walaupun itu dokter praktek mandiri. Dokter gigi tempat biasa saya berkunjung pun demikian, tutup. Kemudian saya dapet rekomendasi dari Beliau untuk berkunjung ke RS besar di kota saya karena masih buka. Yaitu Rumah Sakit Permata Medika Kebumen.

Kata dokternya, PDGI memang menganjurkan dokter gigi praktek untuk tidak beroperasi selama pandemi. Namun tidak semuanya. Ada beberapa yang buka praktek dengan protokol kesehatan tertentu. Dan juga di rumah sakit besar juga ada yang buka.

Di kunjungan pertama, saya mengeluhkan kondisi gigi saya yang merasakan sakit. Saya pun mengutarakan bahwa saat itu saya sedang minum obat asam lambung. Karena sudah tahu dari awal, saya pun menfoto nama obat untuk diberitahukan ke dokter agar dokter bisa mencocokkan dengan obat yang akan diresepkan ke saya nanti.

Baca juga : Ini Dia 8 Permasalahan Gigi yang Perlu Anda Ketahui

Kemudian tambalan gigi dilepas. Kata dokternya, ada gas didalamnya. Jadi harus dibuang. Setelah tambalan dilepas, saya dikasih obat dua macam. Sampai dirumah, obat saya minum. Gigi merasa baikkan di hari pertama. Namun di hari selanjutnya sampai lima hari kedepan hingga obat habis, rasa sakit (gak sakit banget sih tapi cukup menyiksa) masih kerasa. Kemudian saya berkunjung untuk yang kedua kalinya.

Di kunjungan kedua ini saya dikasih obat yang sama. Saya juga mengutarakan bahwa ternyata di gigi saya masih tersisa kapas sumpalan sebelumnya yang melekat erat. Kemudian dokter pun mengambilnya dengan sebuah alat seperti pinset yang nekuk ujungnya. Dan benar saja, ternyata kapasnya cukup besar. Saya pikir kapas tersebut penyebab rasa sakit.

Sepulang dari RS, saya minum obatnya kembali. Dan seperti sebelumnya, dihari pertama rasa sakitnya hilang 90%. Saya pun cukup senang karena rasa sakit berkurang banyak. Namun setelahnya, rasa sakit masih terasa seperti sebelumnya. Sakit yang cukup menyiksa biarpun masih bisa dibawa tidur.

Nah, karena masih sakit, saya pun tak mau diterus terusin. Saya berkunjung kembali ke RS dan menemui dokternya kembali. Dokter menyarankan untuk untuk mencabutnya biarpun saya sedang sakit.

“Ini harus dicabut Mas”
“Tapi saya lagi gak sehat, Dok. Apa gak apa-apa?”
“Sebenernya anjuran cabut gigi itu harus sehat dulu. Tapi kalau kondisinya emang harus dicabut ya tidak apa-apa. Kan dibius sarafnya”
“O begitu ya Dok?”
“Iya”

Dan saya berulang kali menanyakan hal tersebut untuk meyakinkan bahwa saya akan baik-baik saja. Dan sampai sekarang emang baik-baik saja.

Tapi karena perut terasa lapar, akhirnya saya zin keluar dulu cari makanan. Saya gak puasa (saat itu bulan ramadhan) karena emang gak bisa puasa. Karena setau saya, cabut gigi itu perut gak boleh kosong. Pernah kakak saya ditolak mau cabut gigi karena belum makan.

Nah, setelah balik lagi ke RS, saya dipanggil lagi oleh dokternya untuk cabut gigi. Ada banyak penjelasan yang saya dapat dari dokternya karena saya banyak tanya.

Kemudian dokter pun mengenakan APD lengkap. Saya merasa beruntung karena masih ada dokter gigi yang buka. Cuma untuk pelayanan tertentu seperti scalling atau sakit yang masih bisa dikasih obat, dokter tidak melakukan tindakan jika memang masih bisa dikasih obat.

Pasien yang diterima juga yang emang kondisinya emergency dengan rasa sakit yang tidak bisa ditahan dan harus dilakukan tindakan. Misal seperti yang saya alami.

Sebelum dilakukan tindakan, dokter memberikan beberapa hal terkait persetujuan tindakan dan saya harus menandatanganinya. Misal kayak kemungkinan resiko seperti pendarahan sehabis tindakan, dll. Dan saya berhak untuk menyetujuinya atau tidak. Karena kata dokternya kadang ada saja yang tidak setuju dan kemudian dokter tidak melakukan tindakan.

Setelah siap, dokter memberikan 3 jenis obat bius saraf kalau gak salah dibagian gusi. Kemudian mendiamkannya selama beberapa menit hingga obatnya bereaksi. Namun mungkin karena gigi saya sakit, biusnya gak terlalu kerasa.

Setelah menunggu beberapa saat, dokter mulai mencabut gigi saya. Saya sih gak takut karena niat ingin sembuh. Sebelumnya udah pernah cabut gigi juga soalnya. Dokter mencabutnya dengan sebuah alat seperti tang. Gigi saya ditarik-tarik gitu. Sakit sih tapi gak sakit-sakit banget karena biusnya udah bekerja.

Proses pencabutannya pas ditarik-tarik gitu agak lama. Bagi sebagian orang mungkin agak ngeri sih. Apalagi karena gigi sedang sakit. Tapi karena sudah dibius, jadi gak terlalu sakit.

Karena gigi geraham ukurannya cukup besar dan letaknya di paling pojok, dokter sampai membelahnya jadi dua menggunakan alat seperti gerinda kecil, karena setelah dicoba cabut secara utuh, dokter merasa kesulitan.

Dokter juga beranggapan jika akar giginya bengkok, sehingga sulit dicabut. Dan benar saja, akarnya bengkok. (lihat gambar di atas) Makannya jadi agak lama. Kemudian karena sudah dibelah, dokter mencabutnya satu-satu. Jadinya lebih mudah. Saat gigi kena, ada rasa seperti “kreeekkk” gitu.

Setelah dicabut, gusi ditaruh kain kasa bulat agar darah tak keluar. Soalnya ada cukup banyak darah yang keluar. Bahkan saat pulang pun, beberapa kali saya melipir sebentar dijalan untuk meludahkan darah.

Setelah selesai dicabut, dokter menyarankan untuk tidak terlalu sering berkumur karena bisa mengakibatkan pendarahan dan saya menurutinya. Juga jangan minum dengan sedotan karena juga memicu pendarahan. Cara minumnya biasa saja saja dan jangan makan yang panas dulu.

Setelah sampai rumah, badan saya demam dan panas. Menggigil sekali pokoknya. Mungkin ini efek dari cabut gigi. Kemudian saya pun meminum obatnya. Setelah beberapa jam, demam turun dan kembali normal.

Baca juga : Jangan Sepelekan Gigi Berlubang, Atau Anda akan Menyesal Kemudian – Sebuah Pengalaman Pribadi

Dan setelah beberapa hari, pendarahan berhenti. Namun masih ada rasa sakit serta kayak ngilu gitu. Namun lama kelamaan sakit berkurang bahkan jauh berkurang. Dan saat ini sudah lebih baikkan, namun masih kadang kerasa sedikit sakit karena baru beberapa minggu pasca pencabutan.

Oiya, dokter hanya meresepkan satu obat saja karena sebelumnya saya sudah banyak minum obat. “Kasian ginjalnya” kata dokter. Dokter juga mengatakan kalau obatnya hanya diminum saat sakit saja. Jika memang sakitnya masih bisa ditahan, baiknya jangan diminum.

Dokter juga bilang, harusnya saya sudah sembuh dengan obat asam lambungnya. Namun karena rasa sakit didominasi oleh sakit gigi, kemungkinan itu yang bikin asam lambung masih terasa.

Lalu, berapa sih biaya berobat cabut gigi yang termasuk operasi kecil ini ?

Saya berobat di Rumah Sakit Permata Medika Kebumen. Saya kira sampai 800 ribuan seperti kata dokter gigi biasa saya berkunjung. Eh ternyata cuma 200 ribu lebih sedikit. Saya juga heran bisa semurah ini. Soalnya melihat biaya cabut gigi di artikel seorang teman blogger, sampai 3 jutaan. Itu pun udah beberapa tahun lalu. Yah mungkin beda kali ya tindakan dan kasusnya. Juga karena saya tinggal di kota kecil.

Baca juga : Alur Layanan Rawat Inap di Rumah Sakit Hermina Podomoro

Nah, itu saja cerita saya saat cabut gigi geraham saat sakit asam lambung. Semoga bermanfaat. Semoga gak ada yang kayak saya ya. Jagalah kesehatan karena sehat itu segalanya. Kalau mau tanya-tanya, silahkan di kolom komentar.

Oiya, untuk sakit asam lambung yang saya alami saat ini sudah berkurang biarpun baru sedikit. Dan tentunya penyembuhan akan lebih mudah karena sakit gigi sudah membaik.

Jangan Sepelekan Gigi Berlubang, Atau Anda akan Menyesal Kemudian – Sebuah Pengalaman Pribadi