“Di” itu digabung atau dipisah ya?

“Merubah atau mengubah?”

“Minimalisir atau minimalisasi ?

“Tapi kalau minimalisasi kedengarannya aneh deh”

“Dramatisir atau mendramatisasi ?”

“Mendramatisasi juga kedengarannya aneh. Kayak formal banget gitu padahal cuma lagi ngobrol bareng temen doang”

——————

Baca juga

1. Review Indozone.id sebagai Website Millenial & Gen-Z Anti Hoax beserta Plus Minusnya
2. Review Aplikasi Android Alacarte
3. Menjadi Mama Millenial Cerdas & Update Bersama Popmama.com
4. Review Aplikasi SehatQ.com

Ya, tentunya masih banyak dari kita yang masih salah menuliskan atau mengucapakan kata. Misalnya seperti menggabungkan kata “di” yang baiknya dipisah atau digabung ? Tak terkecuali bagi seorang blogger yang aktivitas utamanya menulis.

Mengerti tata bahasa itu penting sebagai bentuk nasionalisme terhadap negeri sendiri. Iya enggak ? Nah, pada artikel kali ini saya ingin mengulas buku novel bahasa berjudul “Kita, Kata, Dan Cinta” karya Khrisna Pabichara. Buat kamu seoarang blogger dan penulis, buku ini wajib kalian miliki.

Saya mendapatkan buku ini dari seorang teman blogger. Terima kasih saya ucapkan karena buku ini bermanfaat sekali. Karena dengan buku ini, kemampuan menulis saya terus terasah.

Saya juga jadi bisa mengenal kata-kata yang terdengar asing, namun sebenarnya yang asing malah yang benar. Dalam buku ini dibahas kata baku dan tidak baku.

Baku = kata yang harusnya dipakai dan sesuai EYD. Tak baku = kata yang tidak sesuai EYD, namun umum sering diucapkan. Misal satai (baku), sering diucapkan sate (tak baku). Kemudian apak (baku), sering diucapkan apek (tak baku).

Isi dari novel Kita, Kata, Dan Cinta

Jadi, konsep dari buku ini adalah novel yang mempelajari bahasa lewat suatu kejadian dalam percakapan sehari-hari. Jadi, belajar bahasa Indonesia menjadi tidak membosankan.

Dalam novel ini, oleh tokoh yang diperankannya banyak membahas kata baku dan tidak baku. Membaca buku ini tidak seperti membaca novel pada umumnya, tapi agak mikir sedikit untuk bisa memahaminya. Namun begitu tetap santai karena pembahasannya cukup mudah dimenegerti.

Tokoh utama dalam buku yaitu Sabda dan juga Kana. Sabda adalah mahasiswa perantauan asal Makassar yang mengambil jurusan Ilmu Budaya di UI Depok. Dan Kana adalah calon seorang dokter.

Dalam ceritanya, Sabda memiliki banyak teman yang menghiasi hari-harinya. Seperti Sam dan Willy. Sabda berasal dari keluarga sederhana, dan Kana yang merupakan kekasihnya, adalah anak dari seorang kaya raya yaitu Pak April dan Ibu Yunna.

Sabda pria pendiam, saking diamnya, Kana lebih dulu mengungkapkan rasa sukanya ke Sabda. Setelah tahu bahwa Kanna menyukai Sabda, lama-kelamaan Sabda pun membalas cintanya.

Sabda memang pria pendiam, namun kritis soal bahasa. Tidak heran jika Sabda disebut sebagai kamus berjalan dan juga dokter bahasa. Saking kritisnya, dalam kondisi genting dan gawatpun, ia masih sempat-sempatnya mengoreksi kesalahan bahasa seseorang, termasuk saat ia berbicara dengan Ayah Kanna yang garang, Pak April.

Pak April sangat tidak setuju jika Sabda menyukai Kanna. Alasanya karena Sabda orang tidak berpunya, sementara Kanna anak seorang konglomerat kaya raya. Namun Kanna sudah terlanjur cinta padanya.

Sabda seringkali tidak dianggap saat ia datang ke rumah Kanna.. Namun karena ia sedang berjuang merebut hati Kana, ia pun terus mencoba apapun rintangannya.

Pada suatu kesempatan, Sabda pernah mengunjungi rumah Kana dan harus berhadapan dengan Ayahnya yang garang. Saat sedang “panas-panasnya” karena ia di beri uang segepok oleh Ayah Kana untuk menjauhi Kana, Sabda berani-beraninya menyela bahwa kalimat yang diucapkan Ayah Kanna belum betul sesuai EYD. Dan Pak April menjawab “dasar anak s***an.

Sabda pun tetap sabar. Hingga pada akhirnya, Pak April paham bahwa Sabda Mencintai Kana tulus apa adanya dan Pak April menerimanya.

Pak April bilang jika selama ini banyak pria mengejar Kanna karena harta Ayahnya. Tidak heran jika Ayahnya begitu selektif memilihkan pasangan untuk Kana.

Suatu kali, Ayah Kanna membutuhkan koreksi atas naskah kerjanya. Nah, disitu peran sabda mulai terlihat dan Sabda mulai masuk ke kehidupan Kanna. Bahkan Sabda pernah menginap di rumah Kanna untuk membantu Ayahnya.

Di akhir cerita, saya kira Sabda bakalan menikah dengan Kana seperti di dongeng-dongeng. Ternyata Kana disuruh menjauhi Sabda oleh Neneknya. Namun tidak dijelaskan apa sebabnya karena cuma ditutup dengan kalimat “Kata Nenek, kamu bukan calon suami yang tepat bagiku” dan selesai.

Setelah membaca novel ini, Ada satu kalimat dari Sabda yang selalu terbesit dibenak saya. Bahwa Sabda mengatakan jika penulis lebih banyak kerenya, dan semoga saja itu tidak terjadi pada kita wkwkkw.

——————————–

Tentang bahasa yang diulas di novel ini
Di novel ini, kita akan banyak belajar mengenai kata-kata baru dari yang kita belum kenal sebelumnya. Misal bau apek, harusnya bau apak. Apak bukan apek. Kata “apak” jika terdengar di telinga kita tentu kurang familiar karena kita lebih familiar dengan kata “apek”.

Kemudian seperti pada kalimat di awal paragraf, bahwa Minimalisir itu kurang pas sesuai EYD, harusnya minimalisasi ? Tapi kalau minimalisasi kedengarannya kan aneh. Terlalu formal gitu seperti pembawa berita karena paling sering digunakan itu minimalisir.

Kemudian kata mendramatisir juga seharusnya mendramatisasi dan terdengar aneh juga. Jika kita ucapkan dalam percakapan sehari-hari dalam, mungkin kita akan dikatain “aneh banget kamu”

Di novel ini, kita juga akan belajar apakah di itu digabung atau dipisah ? Dan yang benar adalah jika “di” diikuti kata kerja, misal “dilakukan” maka digabung. Namun jika “di” diikuti kata benda, misal “di Jakarta” maka dipisah.

Lalu untuk partikel pun, kamu juga akan tau mengenai partikel pun yang digabung atau dipisah. Untuk diketahui, karena cuma ada 12 kata yang disatukan dengan denga partikel pun. Yaitu adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, meskipun, maupun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.

Kita juga akan banyak belajar pelesapan kata, imbuhan, pengubahan, dsb. Intinya kita akan banyak belajar mengenai penggunaan kata yang benar yang kadang bikin kita menggerutu, namun memang begitulah yang sebenarnya.

Di bagian akhir halaman, ada juga tabel atau kamus bahasa yang bisa kita pelajari. Disitu kita bisa mengetahui kata-kata baku dan tidak baku.

——————————————

Bagi seorang blogger, buku ini wajib dimiliki agar cara menulis kita semakin baik. Paling tidak jadi bisa membedakan apakah “di” itu digabung atau dipisah. Setelah membaca buku ini, pemahaman saya semakin bertambah mengenai EYD. Cara penyampaian buku ini nya juga sangat unik karena menggunakan sudut pandang dalam sebuah novel.

Satu pesan saya, jangan berbangga menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, hingga bahasa negeri kita sendiri seperti dilupakan.
Nah, itulah kira-kira review saya tentang buku ini. Jika ada yang kurang pas mohon koreksinya di kolom komentar.

Detail buku
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Diva Press
Harga 120.000